Ezer Kenegdo

Sermon Minggu 24 Agustus 2014 : Roma 12:1-8

Leave a comment

Thema: Pembaharuan Budi Menurut Rupa/Gambar Kristus
I.Pendahuluan
Sebagai umat yang telah ditebus oleh darah Kristus sudah seharusnya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, karena ini adalah langkah iman kita untuk merespons kasih dan pengorbananNya; mempersembahkan tubuh kita untuk dipakai sebagai senjata kebenaran dan hidup dipimpin oleh Roh Kudus, sebab “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” (Roma 8:2). Jika kebiasaan-kebiasaan manusia lama kita telah diubahkan menjadi kehidupan baru yang kudus, kita akan memiliki kehidupan yang sejati dalam kelimpahan oleh karena Kristus. Oleh Roh kudus kita dilahirkan kembali. “Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.” (Roma 6:6-7). Dengan demikian “…kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:4). Ingatlah bahwa di dalam Kristus kita ini adalah ciptaan baru dan kita adalah orang yang hidup oleh kemurahan Allah.

II.Penjelasan Orang percaya adalah orang-orang yang telah menerima belas kasihan/kasih sayang/kemurahan Allah, dari yang tidak layak menjadi layak, dari yang seharusnya binasa menjadi selamat. Itulah kemurahan Allah. Inilah dasar utama bagi kita untuk melayani, beribadah dan bersyukur kepada-Nya. Oleh karena itu, melalui firman Tuhan ini, ada 3 (tiga) sikap yang harus dimiliki oleh orang percaya sebagai orang-orang yang hidup oleh kemurahan Allah, yaitu: Pertama: Memiliki ibadah yang sejati (Ay.1)
Bagaimanakah ibadah yang sejati? Apakah dilihat dari seringnya datang ke gereja? Atau apakah dengan memberi persembahan dalam jumlah yang banyak? Ibadah yang sejati adalah: Mempersembahkan tubuh sebagai persembahan kepada Allah dengan memperhatikan tiga aspek yaitu, hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Mempersembahkan: menyediakan, membawa, mempersembahkan: Hidup: tidak mati, dapat bergerak dan bertindak, aktif dengan penuh kekuatan. Kudus: secara fisik/moral dan rohani dan Berkenan kepada Allah: menyenangkan, dapat diterima dan baik. Ketiga unsur ini harus berjalan secara bersamaan. Keaktifan kita beribadah atau melayani Tuhan apakah sudah dibarengi dengan kekudusan hidup? Atau justru pada saat yang sama, yaitu ketika kita beribadah dan melayani namun juga hidup dalam dosa? Ketika kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan kepada Tuhan, motivasi apa yang ada pada kita, tentu saja menyenangkan Tuhan, bukan menyenangkan diri sendiri.
Kedua: Berani tampil beda dengan dunia (ay.2). Janganlah kamu serupa (sama) dengan dunia ini. Dunia: mengacu kepada segala hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dunia identik dengan kegelapan. Sedangkan orang percaya adalah terang. Maka Paulus menasihati: berubahlah oleh pembaharuan budimu. Berubahlah: μεταμορφόω (metaporpo) = berubah. Mengubah bentuk, Contoh: kupu-kupu. Telur-ulat-kepompong-kupu-kupu dewasa. Bentuk yang semula tidak nampak lagi. Pembaharuan budimu:pembaharuan pemikiran, pengertian, akal, dan perasaan. Lalu apa akibatnya? Dapat membedakan manakah kehendak Allah.
Ketiga: Memiliki kerendahan hati (ay.3-8). Mengapa Paulus mengatakan hal ini? Paulus memberikan alasan mengapa orang percaya harus memiliki kerendahan hati, yaitu
Karena kita adalah satu tubuh di dalam Kristus. Satu tubuh berarti satu pemilik, satu tujuan, yaitu mempermuliakan Allah. Kita mempunyai tugas yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Kita semua punya tugas yang berbeda tapi satu tujuan untuk mempermuliakan Tuhan. Ayat 5, Dalam Kristus kita harus mati bagi dosa untuk Allah, melukiskan kesatuan dalam kekristenan. Satu tubuh, beda anggota, punya fungsi beda. Ketika satu bagian kecil tubuh menderita maka semua menderita. Kita harus berdoa untuk “bagian tubuh lain” yang menderita dan mencoba merangkulnya kembali. Jika satu anggota dihormati, semua anggota bersukacita. Ini mengingatkan kita, bahwa kita semua ada dalam satu tubuh, hanya beda fungsi.

Ayat 6-8, Ada bermacam-macam karunia yang diberikan pada kita, karunia yang kita terima berbeda dengan yang diterima orang lain. Ini memberikan pengertian pada kita, kita jangan harus seperti orang lain, karena Tuhan memberikan porsi yang berbeda-beda. Lakukan apa yang menjadi bagian yang kita terima. Gunakan seluruh karunia yang Tuhan berikan untuk kemuliaanNya.

III. Renungan
1.Ibadah orang Kristen bukan hanya pada Hari Minggu saja didalam Gedung Gereja. Ibadah tidak hanya dalam bentuk Pujian, Doa atau sejenisnya. Ibadah harus dilakukan terus menerus, dimanapun kita ditempatkan oleh Tuhan, melalui apa yang kita lakukan, karena pada dasarnya Ibadah adalah memberikan apa yang layak untuk Allah, yaitu apapun yang kita miliki, termasuk seluruh hidup kita, karena kita adalah orang yang hidup oleh kemurahan Allah.

2.Air laut asin rasanya, tetapi ikan yang hidup di dalam laut tidak menjadi asin. Mengapa bisa demikian? Karena ikan mempunyai kemampuan mencegah mineral garam air laut meresap ke dalam tubuhnya (insulasi) dan dapat menyaring apa yang dibutuhkannya (filterisasi). Orang-orang percaya hendaklah belajar dari ikan-ikan di laut. Kendatipun diutus ke tengah-tengah dunia, tetapi tidak menjadi serupa dengan dunia. Janganlah menjadi serupa dengan dunia (Rm. 12:2a). Serupa dengan dunia itu antara lain mementingkan diri sendiri, meterialistis, hedonis, suka berbuat dosa, tidak takut akan Tuhan, dan sebagainya. Janganlah kita terinfeksi oleh nilai-nilai dunia yang tidak menuruti Allah.
Ada dua jenis sikap orang terhadap dunia yang tidak tepat, yaitu: imitasi (meniru dunia) dan isolasi (menjauhi dunia). Tuhan tidak menghendaki keduanya. Namun, Tuhan menghendaki agar kita dapat mencegah pengaruh buruk dari dunia meresap ke dalam diri kita (insulasi) dan dapat menyaring apa yang berguna (filterisasi). Dengan demikian, kendatipun kita tetap berada di dunia tetapi tidak menjadi serupa dengan dunia. Selain itu, hendaklah kita berubahlah oleh pembaharuan budi kita (Rm 12:2b ). Berubah dalam bahasa Yunani adalah ”metamorphosis”, suatu istilah yang dipakai bagi ulat yang berubah menjadi kupu-kupu. Jangan lagi kita hidup dan berpikir seperti manusia lama, tetapi marilah kita menyerahkan diri untuk terus-menerus diperbaharui menjadi manusia baru yang serupa Kristus.

Pdt. JRM. Lumbanbatu,MTh
Pdt Diperbantukan di Res. Jaya 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s