Ezer Kenegdo

Khotbah Minggu 20 Juli 2014 di GKPI Jelambar

Leave a comment

Nas: Yesaya 44:6-8 (Tuhan adalah satu-satunya Allah)

Orang primitif memperlakukan ilahnya sebagai milik pribadinya, ia selalu mengikatkan kantong kain yang isinya terdapat sebuah patung kecil dari tembaga. Kalau ia sedang sibuk, benda itu tidak diacuhkannya. Bisa berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, jimat itu menggelantung dipinggangnya, tanpa disentuhnya, sebab ia masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.

Hanya sesekali jika terjadi bencana atau bila kehidupan tak berjalan seperti yang diinginkannya, atau bila ada permintaannya yang istimewa, maka kantong kain yang isinya patung itu dibukanya. Patung berhala itu disekanya bersih-bersih sampai putih berkilau. Lalu diletakkannya di tempat yang tinggi, ia pun mundur beberapa langkah, dan ia pun menyembahnya dan mengucapkan doa dalam bentuk mantra.

Itulah praktik hidup suku primitif. Di zaman modern ini tentu praktik yang demikian sudah jarang terlihat. Namun, benarkah kita telah terbebas sepenuhnya dari praktek penyembahan berhala ? Belum tentu, sebab bisa saja praktek penyembahan berhala itu muncul dalam bentuk lain yang lebih berbahaya, karena terselubung rapi bukan dalam kantong kain, tetapi justru dibalik kesalehan dan ketaatan beragama kita.

Oleh karena itu, pernahkah kita memperlakukan Allah sebagai milik pribadi, dan bukan kita yang menjadi milik-Nya ? Allah kita ciptakan menurut gambar kita, bukan kita yang diciptakan menurut gambar Allah. Sehingga Allah yang menyesuaikan diri dengan konsepsi kita, dengan keinginan-keinginan kita, bahkan Ia harus melayani kita. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan kita tidak menegurnya/berkomunikasi/berdoa, Ia kita simpan di kantong kita, karena kita sibuk dengan segala aktivitas dan segala yang kita pikirkan. Namun setelah menghadapi kesulitan kita mengeluarkannya, kita mencarinya dan memanggilnya.

Jika hal itu terjadi, benarkah kita sudah mengasihi Tuhan, Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi ?

Percaya kepada Tuhan Allah bukan hanya sekedar ketika kita sering mengucapkan, “puji Tuhan” atau haleluya. Namun ketika kita dapat menunjukkan aksi atau perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Ada sebuah cerita: ada seorang penjual kuda yang menawarkan salah satu kuda spesialnya kepada seseorang. “Kuda ini spesial pak, dia sudah saya latih untuk jadi kuda Kristen!” … “Kuda Kristen?” … “Iya, dia kalo kita naikin dan mau jalan tinggal bilang ‘Puji Tuhan’ … jalan deh dia” … “Nah terus kalo mau berhenti gmana caranya?” …. “Oh, itu sih tinggal bilang ‘Haleluya’ dia juga ngerti kalo itu berarti dia harus berhenti”.

Karena tertarik memiliki kuda Kristen ini, orang itupun membelinya. Menuju perjalanan pulang dia dengan bangganya menaiki kuda spesial miliknya itu. Berkali-kali dia coba “Puji Tuhan – Haleluya”.   Maka kuda itu pun menurut untuk maju dan berhenti.

Nah, ditengah perjalanan, orang ini tidak menyadari bahwa di depan sana ada sebuah jurang … keasikan naik kuda, dia terus saja bilang Puji Tuhan yang artinya maju terus kuda. Sampai tiba-tiba …. kuda itu tepat beberapa langkah lagi masuk jurang … “eh .. eh .. eh … ada jurang, ada jurang …. stop … stop .. stop … oh iya, kodenya haleluya biar bisa berhenti ni kuda … Haleluya!” maka berhentilah kuda itu tepat di depan jurang.  “Fuih .. nyaris saja …. untung aja saya inget kodenya biar kuda ini bisa berhenti…PUJI   TUHAN!”  Sang kuda pun maju dan masuk  jurang bersama tuan barunya itu. Sama seperti, hewan yang di lihat anak-anak sekolah Minggu semalam di Ancol, hewan tersebut (lumba-lumba, singa laut dan lain sebagainya) bisa dilatih melakukan semuanya, namun sebatas yang diajarkan pelatihnya, ketika kata-kata lain diucapkan ia tidak melakukannya karena tidak menegerti. Dengan demikian, janganlah kita hanya sekedar percaya, dan rajin mengucapkan Puji Tuhan dan Haleluya namun tidak menlakukannya.

Lebih jelasnya, Allah mengingatkan kita bahwa apa pun yang menjadi pengakuan iman kita tidak boleh hanya berakhir sekedar pada pengetahuan atau hanya teori saja, melainkan pengakuan kita harus menimbulkan dampak dalam kehidupan kita sesehari.

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus….

Perikop ini dialamatkan kepada umat Allah yang dibuang di Babel, menekankan bahwa hanya ada satu Allah sebagai yang awal dan yang kemudian, yang kekuasaannya mengatasi langit di atas dan bumi di bawah.

Mengapa ini ditekankan? Umat Allah yang dibuang di Babel ini tidak ditempatkan didalam penjara, melainkan disuatu tempat yang dekat dengan Babel. Mereka boleh mendirikan rumah, berdagang, bercocok tanam, memelihara adat-istiadatnya sendiri, dan juga tetap boleh memeluk agamanya. Namun mereka harus tetap patuh kepada perintah raja dan melakukan kerja paksa (rodi), serta patuh pada penguasa-penguasa Babel.

Kondisi yang demikian ini menjadikan umat Allah (Israel) di Babel dapat berinteraksi secara bebas dan leluasa dengan penduduk asli Babel yang tentu juga dengan agama serta adat-istiadanya. Sehingga mereka ikut terseret untuk percaya kepada ilah-ilah orang Babel.

Di bawah penjajahan kerajaan Babel yang perkasa itu ada beberapa yang tergoda mengakui keunggulan dewa-dewa bangsa Babel dan menyembah patung-patung mereka. Barangkali mereka menyangka bahwa ALLAH Israel adalah ALLAH lokal yang karena keterbatasan geografis tidak mampu melepaskan mereka dari Babel. Ada yang tampaknya berfikir bahwa TUHAN tidak lagi peduli pada keadaan yang gawat yang sedang menimpa mereka. Sementara yang lain menganggap TUHAN telah memperlakukan mereka tidak adil.

Menanggapi sikap-sikap seperti itu TUHAN ALLAH membuat fakta-fakta dan memperkenalkan diri-Nya. “ Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada ALLAH

selain dari pada Ku (ay.6).   Artinya: “Peneguhan kepada Israel tentang diriNya sebagai ALLAH yang esa. (ayat 6) Dan ALLAH yang esa memberikan perlindungan kepada Israel dan meyakinkan mereka bahwa Dia adalah ALLAH satu-satunya bagi Israel”.

Salah satu sumbangsih terbesar kitab Yesaya bagi teologi ialah ajarannya tentang monoteisme mutlak, Allah sebagai Penguasa Tertinggi. Khususnya dalam Yesaya 40-49, kita mendapatkan uraian yang panjang lebar tentang kuasa dan keagungan Allah. Dia adalah satu-satunya Allah sejati, Pencipta bumi dari ujung ke ujung (40:28-29), Pengendali seluruh bangsa (40:11,13,17). Dialah yang berkuasa memberitahukan segala sesuatu yang akan terjadi sejak semula (41:26; bdk. 44:6-8; 46:10-11). Dia adalah yang awal dan yang akhir, selain Dia tidak ada Allah sejati yang lain, ilah-ilah lain tidak ada artinya sama sekali (2:8,18,20-21): “Mereka bukanlah Allah, hanya buatan tangan manusia, kayu dan batu” (37:19).

Nabi Yesaya sendiri dikenal karena pandangannya yang tiada duanya mengenai ALLAH yang maha kuasa dan berdaulat. Pengalamannya tentang ALLAH bukanlah deskripsi abstarak, melainkan potret sangat pribadi yang dipengaruhi perjumpaannya langsung dengan ALLAH pada awal pelayanannya.

Bagi Yesaya ALLAH adalah ALLAH yang maha kudus, ALLAH Israel yang mempunyai otoritas tertinggi dan mutlak atas umat perjanjiaan-Nya dan atas bangsa-bangsa di bumi, tetapi yang pada saat bersamaan ikut campur tangan secara pribadi dalam sejarah untuk melaksanakan maksud-maksud-Nya.

ALLAH akan menggenapi cita-citan-Nya bagi Israel dengan memurnikan umat-Nya melalui hukuman. Kemudian memulihkan mereka kedalam hubungan Perjanjian Baru. Dia akan memgokohkan Yerusalem (Sion) sebagai pusat kerajaan-Nya yang meliputi seluruh dunia dan mendamaikan dengan diri-Nya.

Ilah-ilah lain (patung) adalah buatan tangan manusia yang sangat di benci oleh TUHAN. Para penyembah patung dewa pasti hidup dalam ketakutan karena kepercayaan mereka pada benda-benda buatan tangan mereka sendiri terbukti menyesatkan dan tidak berdasar. Tetapi Israel tidak perlu takut sebab ALLAHnya adalah ALLAH yang sejati. Patung-patung atau ilah-ilah kafir dapat di musnahkan, dan TUHAN muncul sebagai ALLAH yang aktif di mana manusia menjadi obyek karya penciptaan-Nya. Kamulah saksi-saksi-Ku, adakah ALLAH selain dari pada-Ku? Tidak ada gunung batu yang lain, tidak ada Kukenal! (ayat 8).

Dalam perikop ini, Yesaya mengingatkan kita, bahwa jika kita memang mengaku bahwa Allah kita adalah Allah yang Kekal, Allah yang berkuasa, dan tidak ada Allah lain seperti Dia, maka sedikitnya itu akan Nampak dalam kehidupan kita:          

Pertama: Tidak gentar dan takut dalam menghadapi persoalan apa pun.  Bukan berarti kita tidak boleh mempunyai rasa takut dan gentar, melainkan kita tidak membiarkan ketakutan itu menguasai kita sedemikian rupa sehingga membuat kita hidup seperti orang yang tidak mempunyai Allah.  Allah kita lebih besar dari segala sesuatu yang menakutkan kita, karena itu pengakuan iman adalah bahwa Allah kita berkuasa akan membuat kita hidup dalam penyerahan diri dan kebergantungan terhadap Allah.

Memang akan ada banyak kesulitan dan pengalaman getir  mengiringi setiap langkah kita. Sangat sedikit jalan datar, lebih didominasi jalan mendaki, curam, terjal berliku dan licin. Tetapi Tuhan kita juga mengiringi di perjalanan tersebut.  Tuhan senantiasa berada didepan untuk menghadapi musuh musuh, kemudian menyelamatkan kita.
Dan tidak ada alternatif  keselamatan, sebab jalan keselamatan hanya satu yaitu Tuhan Yesus Kristus, dalam Yesus ada kemenangan.

Kedua: Selalu berusaha untuk menampilkan diri sebagai saksi-saksi Allah. Setiap kesempatan untuk menyaksikan kebesaran Allah akan kita gunakan dengan sebaik mungkin.  Kuasa dan kebesaran Allah akan selalu nampak dalam sagala urusan keseharian kita, sehingga ini membuat kita tidak bisa berkata tidak ada kesempatan untuk menjadi saksi Allah. Melainkan setiap waktu, setiap urusan, setiap hal, dapat menjadi kesempatan bagi kita untuk menunjukkan bahwa kita punya Allah yang hebat.

Kita harus yakin bahwa TUHAN tidak pernah meninggalkan umat-Nya, kitalah adalah umat pilihan-Nya. Dan TUHAN menyatakan kepedulian-Nya kepada kita dengan bukti Ia menggendong kita, memegang kita dengan tangannya yang kuat yang membuat kita selalu aman dan nyaman dalam perlindungan kuat kuasannya sekarang dan selamanya. TUHAN memberkati kita.AMIN

Doa:

Terimakasih Tuhan karena Engkau tidak pernah meninggalkan kami, Engkau selalu memelihara kami bahkan dalam Yesus kami memperoleh kemenangan dan keselamatan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s