Ezer Kenegdo

Khotbah Minggu 29 Juni 2014 di GKPI Tangerang

Leave a comment

Nas: Roma 6:12-23 (Hiduplah Dalam Pembenaran, Pengudusan dan Kasih).

Orang Kristen adalah orang yang bebas, orang yang merdeka atau lebih tepat orang yang sudah dibebaskan dan dimerdekakan oleh Tuhan sendiri. Orang Kristen juga adalah budak yang diangkat anak, dibebaskan dari perbudakan kuasa kejahatan, diangkat menjadi anak-anak Tuhan, anak-anak terang, anak-anak keselamatan.

Ini adalah perubahan status yang amat radikal dan amat tiba-tiba, oleh sebab itu ada bahaya dan godaan yang besar, Pertama: shock, sulit menyesuaikan diri dengan status dan situasi yang sama sekali baru. Mungkin masih merasa nyaman dengan kehidupan yang lama, apalagi daya tarik kehidupan yang lama masih kuat karena terarah pada diri sendiri, karena terarah kepada kehidupan yang berprinsip asal enak, asal gampang dan asal cepat. Godaan kedua: Lupa daratan, tidak dapat mengendalikan diri, seperti mobil yang remnya blong, sehingga ia bebas sebebas-bebasnya tanpa control.

Itu sebabnya, Dietrich Bonhoeffer mengatakan, bahwa bagi orang Kristen ada hubungan yang erat sekali antara kebebasan dan ketaatan. Ini tidak bisa dipisahkan. Mengapa ? sebab kebebasan/kemerdekaan yang tanpa ketaatan adalah kesewenang-wenangan, sedangkan ketaatan tanpa kebebasan adalah perbudakan. Rasul Paulus juga mengatakan bahwa hidup orang Kristen itu bebas, tetapi tidak semena-mena, tidak hidup sembarangan tanpa norma. Tetapi harus disiplin, harus ada ketaatan, harus ada ketertiban.

Saudara/i yang terkasih….Mungkin kita pernah mendengar perkataan, simul iustus et peccator (orang yang benar, namun sekaligus berdosa). Kedengaran paradox, sebab orang yang sudah dibenarkan berarti orang itu dianggap sudah tidak berdosa lagi oleh Tuhan. Dan sebaliknya, orang yang berdosa adalah orang yang belum dibenarkan oleh Tuhan.

Bagaimana mungkin ada orang yang sekaligus dibenarkan sekaligus orang yang berdosa ? Agak paradox, tetapi benar. Status kita saat ini adalah orang yang sudah dibenarkan/dimerdekakan. Namun sering sekali kita merasakan/menghadapi bagaimana kuatnya iblis bekerja dalam hidup kita, menggoda kita, sehingga daya tarik hidup yang lama selalu menggoda kita kembali.

Oleh sebab itu kita harus berperang melawan tipu muslihat iblis, kita harus melawan roh-roh jahat karena iblis itu selalu berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum untuk mencari mangsanya. Bahkan iblis juga datang seperti serigala yang berpura-pura seperti domba. Berbagai cara, penuh tipu daya, penuh tipu muslihat agar kita kembali menjadi hambanya (hamba dosa). Lalu bagaimana caranya kita melawan tipu muslihat iblis ? “ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri”.

Kemudian alat apa yang kita pakai untuk menyerang dan melawan tipu muslihat iblis ? yaitu Firman Allah. Sebab Firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun, ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sum-sum, ia sanggup menikam musuh kita, bahkan juga menikam kita sendiri.

Perikop hari ini, Roma 6:12-23: Rasul Paulus juga mengingatkan bahwa sebagai orang-orang yang sudah ditebus dari perhambaan dosa kita tidak lagi menjadi “hamba dosa” tetapi sudah menjadi “hamba kebenaran.” Penggunaan kata “hamba” di sini untuk mempertahankan pemahaman tentang makna kepatuhan, yang semula tunduk kepada keinginan dosa sekarang tunduk kepada tuntutan kebenaran. Kalau tadinya sebagai hamba dosa telah menimbulkan kecemaran yang akan berakhir dalam kebinasaan, sekarang sebagai hamba kebenaran membuahkan kekudusan yang berujung kepada hidup kekal.

Peralihan dari “hamba dosa” kepada “hamba kebenaran” (=hamba Allah) adalah sebuah pengalaman sangat istimewa yang momentumnya perlu terus dipelihara, agar seseorang yang semula diperhamba oleh dosa menyadari akan kemerdekaannya sehingga tidak selalu merasa dikendalikan oleh kuasa dosa. Sebaliknya, menjadi hamba kebenaran adalah memiliki kebebasan untuk melakukan hal-hal yang benar tanpa dihalang-halangi lagi oleh kuasa dosa yang sudah tak berdaya lagi.

Namun, seringkali kebiasaan hidup berdosa yang sudah mendarah-daging itu masih terbawa terus walaupun kita sekarang sudah menjadi hamba Allah. Itu sudah saya sebutkan di atas godaan Shock, merasa nyaman dengan kehidupan yang lama dan ingin kembali kepada kehidupan yang lama. Sehingga rasul Paulus mengingatkan, “Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup.

Saya angkat sebuah kisah, pada abad keempat belas ada dua orang laki-laki bersaudara yang saling berperang demi untuk gelar adipati (duke) di negeri yang sekarang dikenal sebagai kerajaan Belgia. Sang kakak bernama Raynald, tapi lebih dikenal dengan nama julukan “Crassus” yang dalam bahasa Latin berarti “Si Gendut.” Raynald ini gendutnya memang minta ampun. Dalam peperangan itu adiknya, Edward, berhasil mengalahkan sang kakak dan mengambil alih kekuasaan sebagai Adipati yang baru. Tidak seperti biasanya dalam peperangan memperebutkan takhta kekuasaan, Edward tidak langsung membunuh Raynald yang berhasil dikalahkannya itu, tetapi memenjarakannya di salah satu ruangan yang sengaja dibuat dalam kastilnya sebagai kamar tahanan buat sang kakak. Anehnya, kamar tahanan yang berpintu satu dan berjendela satu itu sama sekali tidak dikunci tapi dibiarkan terbuka dan tanpa pengawalan. “Kalau kamu bisa keluar dari ruangan ini, kamu boleh menduduki kembali takhtamu,” kata Edward kepada Raynald.

Tetapi masalahnya bukan pada pintu atau jendela yang ukurannya normal, melainkan pada diri Raynald sendiri. Tubuhnya yang sangat kegendutan mustahil bisa melewati pintu atau jendela itu untuk meloloskan diri. Dia harus berdiet habis-habisan dalam waktu cukup lama agar bisa menurunkan berat badannya mendekati normal, dan dengan sedikit usaha niscaya dia baru bisa keluar memerdekakan diri. Namun, Edward terus saja mengirimi kakaknya itu makanan-makanan lezat yang berlimpah, termasuk berbagai jenis coklat yang menggiurkan, sehingga meskipun Raynald sangat rindu untuk bebas tapi kerinduannya itu tidak pernah berhasil mengalahkan seleranya untuk terus melahap makanan-makanan yang disajikan. Terhadap tudingan bahwa Duke Edward berlaku kejam terhadap kakaknya, sang adik hanya menjawab, “Kakak saya itu bukan dipenjarakan, sebab dia boleh meninggalkan ruangan itu kapan saja dia mau.” Raynald mendekam selama sepuluh tahun di kamar itu sampai orang-orang datang membantunya keluar dengan membobol pintu setelah Edward tewas dalam suatu pertempuran.

“Apa yang membuatnya begitu buruk ialah perbudakan itu bukan semata-mata dipaksa dari luar; sebaliknya, itu datang dari dalam diri kita. Bagaimana kita bisa dibebaskan dari suatu perbudakan, suatu perhambaan, yang berasal dalam diri kita, bahkan di dalam sifat alamiah kita?…Jawabnya, sebagaimana telah kita lihat pada ayat-ayat di atas, hanya datang dari kuasa Yesus saja, yang sudah menang untuk kita dan yang menawarkan kepada kita kuasa untuk mengatasinya” .

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus… Pertama: Kita telah dimerdekakan oleh Kristus. Merdeka dari apa? Dari perhambaan dosa. Dari hidup menurut daging. Apa itu perbuatan daging?   Yaitu: semua perbuatan mementingkan diri sendiri, memuaskan diri sendiri. Perbuatan-perbuatan yang mencari kepentingan diri sendiri, egois, saling gigit seperti binatang buas yang kelaparan berebut mangsa. Namun, Sekarang kita sudah jadi orang bebas, jangan lagi diperbudak oleh dosa atau perbuatan daging. Bebas dari dosa bukan berarti saya bebas buat apa saja. Itu bukan merdeka. Kita dipanggil merdeka untuk mengasihi.

Dulunya menghambakan diri kepada dosa, sekarang menghambakan diri kepada kasih. Dulunya melayani dosa, sekarang melayani Tuhan yang adalah kasih. Jadi, setelah kita dimerdekakan Kristus, tidak berarti kita bebas mau apa saja dan buat apa saja, tetapi kita sekarang menjadi hamba kasih. Kita dimerdekakan dari perbudakan dosa untuk menjadi budak kasih.

Apa wujud kasih yang paling nyata? Mengasihi dan melayani orang lain. Persoalannya, kita susah mengasihi. Mengapa? Karena kita diracuni sifat mementingkan diri. Individualis. Saya tidak ganggu Anda, Anda jangan ganggu saya. Kita hidup damai berdampingan. Jangan saling ganggu. Kita sama-sama beribadah di gereja ini, salaman, senyum satu sama lain, selesai! Memang itu damai, tetapi gersang. Itu bukan panggilan orang Kristen. Itu bukan yang dikehendaki Tuhan. Setiap kali Alkitab bicara tentang kasih, maka maksudnya kasih itu aktif. Kasih itu terlibat dalam hidup orang lain dan orang lain terlibat dalam hidup saya. Sesama saya harus dikasihi dan dilayani seperti Kristus mengasihi saya.

Mengapa mengasihi orang lain adalah wujud kasih yang paling nyata? Karena kita sudah menerima kepenuhan kasih Allah. Kita sudah dimerdekakan oleh Allah, kita sudah menerima kasih Allah, bahkan kasih Allah penuh berlimpah dalam diri kita. Kita sudah merasa dipuaskan oleh kasih Allah, maka dari hati kita akan melimpah kasih itu kepada orang lain. Dengan kata lain, karena kita sudah dikasihi begitu besar, curahkanlah, luapkanlah kasih itu kepada orang lain. Kasih Tuhan itu terus melimpah dalam hati kita sehingga tidak bisa kita tahan-tahan.

Kedua: Apa istimewanya menjadi hamba Allah? Kita membaca di sini bahwa dengan menjadi hamba Allah akan menghasilkan buah berupa pengudusan, dan dari pengudusan akhirnya kepada hidup yang kekal. Sedangkan “hamba dosa” telah menyebabkan kemerosotan (Rm. 3:23) dan berujung kepada kebinasaan (Rm. 6:23).

Biarlah melalui Firman ini kita dapat memilih mana yang terbaik bagi kita yaitu hidup yang kekal. Amin.

Doa:

Terimakasih Tuhan buat kemerdekaan/kebebasan yang telah Engkau anugerahkan, sehingga kami tidaklah menjadi hamba dosa, namun kami sering kali diperhadapkan dengan tipu muslihat iblis yang selalu menggoda kami, agar kami kembali kepada kuasa iblis, oleh sebab itu biarlah Roh Kudus menjaga kami tetap berdiri teguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s