Ezer Kenegdo

Khotbah Kamis Putih, 17 April 2014 : Yohanes 16:1-11

Leave a comment

Thema : Penderitaan Yesus dan Kedosaan manusia

Kita pasti pernah mendengar pepatah mengatakan, “Seberat-berat mata memandang, berat jua bahu memikul”. Walaupun kita ikut merasakan kesedihan dan penderitaan orang lain, namun lebih berat bagi orang yang langsung menghadapinya.

Pada saat Yesus menjalani penderitaanNya di kayu salib, Yesus bukan hanya memikul salib dan disalibkan, namun Yesus juga harus mendapatkan caci makian, dipukul, diejek/dihina, diludahi. Begitu berat penderitaan yang harus dihadapi Yesus, bukan karena perbuatan-Nya yang salah, bukan karena kejahatan yang Ia lakukan. Ketika kita membaca Alkitab tentang jalan penderitaan Yesus, pastilah kita merasa sedih bahkan mungkin sampai menangis. Seandainya saya/kita berada ditempat di mana Yesus disalibkan, apa yang terjadi? Apakah kita mau membantu-Nya memikul salib (seperti yang dilakukan oleh Simon Kirene?) atau justru kita ikut mengejek, menghina, meludahiNya? Atau kita akan seperti perempuan-perempuan yang mengasihi Yesus yang selalu berada didekat Yesus untuk memberikan semangat, atau juga seperti Maria yang selalu menangis karena melihat penderitaan Yesus, Mungkin Maria sebagai ibu akan berkata dalam hatinya, oh anakku, lebih baiklah aku yang menanggung penderitaanMu”. Tidak ada yang bisa dilakukan Maria sebagai ibu, Maria hanya memandangi anak sulung yang dikasihinya dengan mata tak berdaya dan hati yang remuk.

Ada sebuah cerita ketika Kaisar Nero mengejar orang-orang Kristen untuk dibunuh dan orang pertama yang paling dicari adalah Petrus, karena Petrus adalah pemimpin orang Kristen yang paling utama di Roma. Kaisar Nero sudah berjanji, jika Petrus ditangkap maka Petrus harus disalibkan, dan Kaisar Nero sudah mempersiapkan salibnya. Ketika Petrus mendengar berita bahwa ia akan ditangkap dan disalibkan, maka Petrus pun melarikan diri. Namun dalam pelariannya, diperjalanan petrus bertemu dengan Yesus yang sedang berjalan ke arah Roma. Petrus sangat ketakutan, sehingga membuat nafasnya satu-satu dan sorot matanya juga sangat ketakutan. Namun Petrus masih sempat bertanya kepada Yesus, Qua vadis, Domine? (mau kemana Tuhan? ).

Lalu Yesus menjawab, “Mau kemana aku? Aku mau ke Roma agar aku disalibkan kembali menggantikan engkau. Sedih bukan ? Yesus terus menerus disalibkan karena kita tidak mau memikul salib-Nya. Quo vadis orang Kristen ? mau kemanakah engkau orang Kristen? Melarikan dirikah kita agar selamat dari penderitaan tersebut ? terlalu sibukkah kita untuk kepentingan diri kita sendiri, atau takutkah kita memberi kesaksian tentang Yesus?

Saudara/i –ibu/bapak yang dikasihi Yesus Kristus….

Kamis malam sebelum Yesus disalibkan, Yesus dan murid-muridNya melakukan perjamuan malam, karena Yesus mengetahui  besok Ia akan menjalani penderitaan dan kematian. Sebelum mereka makan Yesus berkata “Satu diantara kamu akan menyerahkan Aku”. Semua murid-murid berkata, “Bukan aku Tuhan. Yudas Iskariot juga berkata, “Bukan aku Rabbi”. Padahal sebenarnya pada malam itu Yudas sudah menerima uang sebagai bukti bahwa Yudas telah menyerahkan Yesus kepada orang-orang banyak (ahli Taurat). Dan sebenarnya sebelum Yesus disalibkan, Yesus sudah mempersiapkan dirinya dan murid-muridNya untuk menghadapi Via Dolorosa/ jalanNya penderitaan yang akan Ia hadapi.

Dalam perikop ini, Yesus menjelaskan apa-apa saja yang akan dihadapi oleh para pengikutnya oleh karena namaNya. Mereka akan dikucilkan bahkan dibunuh (ay.2). Maka dalam hal ini Yesus telah mengetahui apa yang nantinya akan terjadi pada para pengikutnya. Dan Yesus memperingatinya sejak dini agar para murid dan para pengikutnya tidak kalah akan ancaman yang datang dari dunia ini dan tetap berpegang teguh untuk memikul salib.

Yesus sadar betul murid-muridNya itu kecil dan sedikit, masih baru tiga tahun dibina. Belum punya motivasi yang kokoh, masih ada yang penuh dengan ambisi-ambisi pribadi. Dan dalam keadaan seperti itu, Yesus harus meninggalkan mereka. Dalam waktu dekat, Yesus harus menapaki jalan-jalan penderitaan yang akan membawa-Nya ke Golgota. Karena itu, tidak ada jalan lain murid-muridNya harus dipersiapkan secara khusus untuk menyongsong datangnya masa sulit, masa penderitaan, masa kesengsaraan.

Mendengar ini murid-muridnya menjadi takut , mereka semua takut mati dan menderita. Mereka semua terkejut, tertekan dan bingung. Guru mereka, Tuhan mereka, motivator mereka, akan meninggalkan mereka dan tidak lagi bersama-sama dengan mereka. Dia akan pergi dan kembali ke sorga. Tetapi dalam hal ini mereka tidak memahaminya. Ini sama sekali tidak masuk akal mereka. Mereka berkumpul seperti domba yang ketakutan ditengah-tengah gembala mereka pada malam itu. Mereka takut meningalkanNya. Ditengah-tengah kebingungan dan ketakutan para murid, Yesus berkata “Sekarang aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun diantara kamu yang bertanya “kemana aku akan pergi”, tetapi karena aku telah mengatakan ini kepadamu sehingga hatimu berdukacita (Ay. 5-6).

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus…

Ada yang mengatakan begini “Penderitaan itu akan membuat orang yang kuat justru menjadi semakin kokoh. Seperti paku, yang semakin dihantam dan dipukul semakin dalam menghujam, semakin tidak mudah dicabut. Tetapi bagi orang lemah, penderitaan itu akan membuatnya hancur seperti bubur”. Karena itu tidak ada jalan lain, Yesus harus membuat murid-muridNya itu kuat mental. Bagaimana caranya ?Yesus menyakinkan murid-muridNya, bahwa mereka tidak sendirian untuk memikul seluruh beban penderitaan. Ada Penghibur, Parakleitos, Roh Kudus yang akan menyertai murid-muridNya, Roh Kudus yang akan membantu kita dalam kelemahan kita. Itu sebabnya Yesus berkata, “bahwa lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi. Sebab jika Aku tidak pergi penghibur itu tidak akan datang, tetapi jika Aku pergi Aku akan mengutus Dia kepadamu”.

Apa yang diutus Yesus adalah Roh Kudus, namun Roh Kudus bukan manusia, seperti adanya penafsiran lain mengatakan bahwa Isa Almasih telah menjanjikan kehadiran nabi berikutnya. Sedangkan Roh Kudus memiliki posisi yang sama dengan Allah Bapa dan Yesus Kristus, dianyatakan dalam Tritunggal yang esa. Roh Kudus berasal dari sorga (ay.7).

Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (ay.8). Ini adalah ucapan Yesus sebelum berpisah secara fisik dengan murid-muridNya. Yesus menjanjikan kedatangan Roh Kudus untuk menyertai, menaungi, dan menyemangati murid-muridNya. Mereka tidak akan ditinggalkan sendirian oleh Yesus. Roh Kudus akan menghibur dan menguatkan mereka, dan Roh Kudus juga akan menginsafkan dan menyadarkan dunia betapa dosa telah memisahkan mereka dari Allah menuntun ke dalam kehancuran dan maut. Kebenaran yang menyelamatkan adalah percaya kepada Yesus Kristus yang datang dari Allah, mati disalibkan dan bangkit dari antara orang mati, dan naik ke sorga duduk di sebelah kanan Allah. Dan Allah akan mengutus kembali Anak-Nya untuk menghakimi dunia ini.

Siapa yang percaya kepada Kristus akan beroleh hidup yang kekal namun siapa yang tidak percaya kepadaNya akan dihukum. Oleh sebab itu, melalui Kebaktian Kamis Putih ini, marilah kita memohonkan agar Roh Kudus juga datang dan tinggal didalam hati kita. Supaya olehNya kita disadarkan dan diinsafkan betapa menyeramkan dan mengerikannya akibat dosa itu bagi kita yaitu: kematian. Dan supaya kita dibebaskan dari belenggu dan kungkungan dosa yang mematikan itu dengan percaya kepada Yesus Kristus dan hidup didalam Dia, sehingga kita tidak perlu takut kepada hari penghakiman kelak.

Hari kamis putih adalah hari yang baik bagi kita untuk mengingat kembali pesan Injil yang sangat mendasar: Yesus tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah”. Maka di atas kayu salib Dia mempersembahkan hidup-Nya sebagai kurban perdamaian bagi kita. Yesus mengalami suatu kematian, yang sebenarnya pantas bagi kita manusia berdosa.

Inilah kepastian hidup bagi orang Kristen yang percaya, bahwa Yesus bukan hanya mati di kayu salib namun Ia juga telah naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Bapa. Oleh sebab itu barang siapa yang percaya memperoleh hidup yang kekal.

Istilah Kanan sering menjadi ungkapan yang sangat positip dalam percakapan sehari-hari, misalnya: tangan kanan=menjadi orang kepercayaan, langkah kanan=memiliki keberuntungan dan moment yang tepat untuk memperoleh sesuatu. Hal serupa dalam istilah, “duduk disebelah kanan Allah Bapa” merupakan penghargaan yang diberikan kepada Kristus sebagai Anak Allah yang Maha Tinggi. Kristus duduk disebelah kanan Allah Bapa setelah usai melakukan misi Allah, mengadakan penyucian dosa. Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Kristus menjadi jaminan bagi orang yang percaya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s