Ezer Kenegdo

Khotbah di GKPI Jelambar, Minggu 15 Juni 2014

Leave a comment

Thema: Memuji Allah Sang Pencipta

Firman Tuhan itu tidak seperti kata-kata biasa. Firman Tuhan itu hidup. Ketika Tuhan berbicara, terjadi perubahan. Segala sesuatu disekitar kita, semua ciptaan ada karena “Tuhan berfirman” (creation ex nihilo= dari yang tidak ada menjadi ada). Alkitab (Firman Tuhan ) jauh lebih besar dari sekedar buku panduan pengajaran. Firman Tuhan menghasilkan kehidupan, menciptakan iman, menghasilkana perubahan, membuat iblis takut, menyebabkan terjadinya mujizat, menyembuhkan luka-luka, membangun karakter, mengubahkan keadaan, memberikan sukacita, mengalahkan perlawanan, mengatasi godaan, memompa harapan, melepaskan kuasa, membersihkan pikiran kita, menjadikan segala sesuatu dan menjamin masa depan kita untuk selamanya ! oleh sebab itu, kita tidak dapat hidup tanpa Firman Tuhan.

Creatio ex Nihilo yaitu Allah menciptakan segala yang ada dalam semesta ini dari ketiadaan. “Ketiadaan” yang dimaksud di sini adalah ketidakberbentukan dan kekosongan atau kehampaan. Jadi sebelum semesta ini ada sebagaimana sekarang, hanya ada Allah dan ketiadaan. Ketiadaan yang dimaksud juga bisa berarti ketiadaan dari kebaikan, ketiadaan dari keindahan, ketiadaan dari kebahagiaan, ketiadaan dari kebenaran, ketiadaan dari kehidupan, ketiadaan dari terang, ketiadaan dari makna dan tujuan.

Jadi memang sejak awal hanya di dalam diri Allah lah kebaikan, keindahan, kebahagiaan, kebenaran, kehidupan, terang maupun makna dan tujuan. Di luar Diri-Nya hal-hal tersebut tidak ada. Di luar diri-Nya kita tidak akan menemukan kebaikan, keindahan, kebahagiaan, kebenaran, kehidupan, terang dan makna melainkan yang kita temui adalah kejahatan, kecemaran, penderitaan, kebohongan, kematian, kegelapan dan kesia-siaan. Itulah ketidaan yang dimaksud.

Lebih jelasnya, Allah menciptakan segala sesuatu; langit, bumi, laut dan segala isinya (Kel 20:11, Neh 9:6, dll) dari yang tidak ada menjadi ada. Apa yang disebut materi berasal dari ketiadaan, bukan dengan ada sendirinya tetapi diciptakan menjadi ada oleh Allah. Hanya Allah satu-satunya yang ada sejak dari permulaan yang tidak dicipta oleh siapapun.

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus…      

Dalam mitos Mesir tentang penciptaan, menceritakan bahwa bumi, langit, para dewa-dewi termasuk Atum-Ra sang pencipta muncul dari sebuah samudera kekacauan yang dinamakan Nu. Atau kepercayaan Babel yang menyakini langit dan bumi diciptakan Marduk dari mayat dewi-monster ular Tiamat. Tetapi tradisi Israel kisah penciptaan itu dilakukan oleh Allah yang kekal yang sangat berbeda dengan pemahaman bangsa-bangsa di sekitarnya. Keunikan Allah diperkuat dengan pernyataan bahwa Roh-Nya “melayang-layang” di atas kekacauan/ ketidakberaturan. Marilah kita perhatikan penjelasan di bawah ini:

Pertama: Kalimat Awal dalam Alkitab adalah Pada Mulanya (bereshith).  Allah berada dalam waktu yang tak terbatas : Kata “pada mulanya” (dimula ni mulana bhs. Batak) dalam ayat 1 menunjuk dan mempunyai arti bahwa -adanya Allah yang mendahului waktu dan peristiwa penciptaan itu; dan -adanya suatu waktu di depan yang menunjukkan aktivitas Allah yaitu peristiwa penciptaan.

Melalui kata “pada mulanya”, ditekankan bahwa sesungguhnya Allah berada dalam ruang dan waktu yang tak terbatas. Karena kata “pada mulanya” adalah suatu perkataan yang tidak dapat diukur berapa lama, saat peristiwa penciptaan itu dilaksanakan. Manusia tidak dapat menghitungnya dengan waktu (jam, hari, minggu, bulan, tahun, abad), karena kata “pada mulanya” adalah menunjukkan waktu yang tak terhingga (tak terbatas).

Kata itu juga menunjukkan dan memberikan pengertian kepada manusia, sebagaimana sudah sering difirmankanNya, bahwa Tuhanlah Alfa (yang awal) dan Omega (yang akhir, lih. Yes. 44:6; 48:12; Why. 1:8,17; 2:8; 21:6; 22:13). Allah mendahului waktu dan melebihi waktu, dan waktu juga tidak dapat membatasi Allah dan keberadaanNya. Karena itu kata “pada mulanya” mestilah juga kita lihat sebagai suatu pemahaman dan pernyataan teologis tentang kemuliaan dan kekekalan Allah, sekaligus kesaksian iman Israel (manusia) bahwa Tuhan itu adalah Tuhan yang memiliki kemaha-kuasaan.

Allah menciptakan. Ini adalah Credo yang paling mendasar dari tradisi Israel yang menyatakan secara tegas bahwa Allah yang berkarya. Allah melakukan semuanya. Tidak ada pernyataan yang bisa lebih menakjubkan daripada pernyataan ini.

Oleh karena itu, jika dikatakan Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya menunjukkan bahwa Allah sudah ada sebelum dunia ini dijadikan, sudah ada waktu (waktu Tuhan). Sehingga kita harus memahami bahwa waktu itu ada dua, waktu Allah dan waktu manusia yang diberikan oleh Allah, dan ke dua waktu ini tidak dapat disamakan, tidak terbandingkan, sungguh jauh berbeda. Pemazmur berkata:”Sebab di mataMu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti giliran jaga di waktu malam”(Mzm.90:4), …bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari” (2 Petrus 3:8). Waktu Tuhan adalah kekal tetapi waktu manusia akan semakin habis, itu sebabnya kita selalu berdoa supaya kita semakin bijaksana memakai waktu yang diberikan Tuhan kepada kita (Maz. 90:12).

Kedua:  Mencipta (bara) adalah kata kerja yang hanya dipakai untuk Allah. Manusia tidak mungkin mencapai kuasa-kuasa yang terkandung dalam istilah ini (creation ex nihilo), sebab kata ini menggambarkan mukjizat sempurna. Dengan kuasa tertinggi untuk menciptakan yang Allah miliki, sesuatu yang sama sekali baru dijadikan yaitu: Langit dan bumi. Di sini penulis Kejadian memfokuskan perhatiannya pada seluruh wilayah bumi, di atas, di sekeliling dan di bawah.

Bumi belum berbentuk, kosong, gelap gulita menutupi samudera raya : Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, ternyata bahwa bumi itu belum berbentuk, kosong dan gelap gulita menutupi samudera-raya. Belum berbentuk berarti masih belum tertata dengan baik, kata “kosong” berarti belum berisikan apa-apa, belum ada yang berdiam diri di dalamnya atau belum ada pohon-pohonan yang bertumbuh diatasnya.

Kata Ibrani “tohu wa vohu” secara harafiah “kacau-balau” yang berarti suatu keadaan yang tidak menentu, suatu bentuk yang tidak dapat digambarkan bagaimana rupa bumi itu, karena kegelapan masih menutupinya dan bentuknyapun masih kacau-balau, bisa juga dipahami sebagai bumi yang belum teratur, susunan kosmosnya belum berada pada porosnya masing-masing. Karena itu, menciptakan tidak hanya berarti membuat yang tiada menjadi ada, tetapi juga membuat yang kacau-balau menjadi teratur.

Roh Allah melayang-layang dan Allah menciptakan “terang” : Dikisahkan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, Roh Allah melintasi semua batas bumi, udara, air dan lain-lainnya atau melintasi seluruh kosmis. Dalam hal itu Allah melihat dan menyadari bahwa bumi dan langit yang diciptakanNya itu masih “kacau-balau”, masih “gelap-gulita”, masih “kosong” dan tentu berarti belum sempurna.

Untuk meneruskan aktivitas (kegiatan) penciptaan yang sudah dikerjakan-Nya, maka yang dilakukan Allah untuk mengatasi suasana kegelap-gulitaan itu agar tidak terjadi kekacau-balauan adalah menciptakan “terang”. Berfirmanlah Allah, “Jadilah terang, lalu terang itupun jadi” (ay.3). Penciptaan “terang” adalah jawaban pertama dari Allah terhadap keadaan bumi yang masih belum berbentuk, kosong, gelap-gulita atau kacau-balau, jawaban berikutnya adalah membuat cakrawala, memisahkan air dari daratan (lih. ay. 6-10).

Terang adalah suasana yang terang-benderang, yang menjadikan semuanya dapat terlihat dengan jelas, lawan dari kegelap-gulitaan. Aspek “terang” menjadi bagian dari gambaran kehidupan, yang bertentangan dengan “gelap” atau diartikan juga “siang” yang berbeda dari “malam”. Sebagaimana dikatakan dalam ayat 4, Allah melihat bahwa “terang itu baik”, yang terpisah dari gelap, itu berarti dengan adanya terang, bumi menjadi sempurna, menjadi lebih baik, kehidupan menjadi jelas. Ini juga sekaligus menandai, menyatakan dan menyaksikan bahwa “terang” itu adalah sisi positif dalam kehidupan, bahwa Tuhan telah menjadikan “terang” itu agar nantinya seluruh ciptaan dapat berporses, dapat beraktivitas dan melakukan kegiatannya masing-masing untuk mengisi kehidupan yang Tuhan berikan.

Pesan Theologis bagi kita:

Pertama: Allah yang melampaui batas ruang dan waktu. Melalui kisah penciptaan ini, walaupun mungkin hanya sepatah kata, “pada mulanya”, tetapi di dalam dan di balik kata itu terdapat realitas yang luas tentang kebesaran dan kemuliaan Allah yang tidak cukup dijelaskan dengan kata-kata.

Manusia adalah bagian dari ciptaanNya. Dengan demikian, hidup kita berada dalam pengandalan Tuhan. Kita tidak berkuasa atas segala yang terjadi dalam hidup ini. Karena itu, kita senantiasa menyerahkan hidup ini dalam pengendalian Tuhan. Satu hal yang patut kita lakukan adalah menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan semesta alam.

Kemuliaan Tuhan juga terlihat dalam diri Yesus Kristus. Ia, yang adalah terang dunia dan Ia juga datang ke dunia ini. Alkitab berkata, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Oleh sebab itu, kita mengumumkan dengan kepastian mutlak bahwa Yesus adalah “Firman itu,” Logos yang kekal. Dari permulaan, Logos itu sudah ada. Ia tidak lain adalah Allah itu sendiri. Bukan hanya membawa Firman itu, namun bersamanya di dalam pribadi-Nya sendiri, hidup dan keberadaan-Nya sendiri. Lagi pula, Logos ini yang “bersama-sama” dengan Allah mengindikasikan pembedaan di antara pribadi-pribadi Ke-Allahan (Trinitas). Akhirnya Logos itu adalah Allah yang kekal.

Kemuliaan Tuhan yang melekat pada diri Yesus, mendorong kita untuk mengakui kemuliaanNya, menghormati kemuliaanNya, mendeklarasikan kemuliaanNya, memuji kemuliaanNya, mencerminkan kemuliaanNya, dan hidup untuk kemuliaanNya. Mengapa ??? Karena Tuhan layak mendapatkannya, kita berkewajiban memberi penghormatan yang dapat kita persembahkan kepadaNya. Karena Tuhan menciptakan segala sesuatu. Ia layak mendapat semua kemuliaan.

Kedua: Penyembahan kita akan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan. C.S. Lewis berkata, “Ketika Tuhan memerintah kita untuk memuliakanNya, Tuhan mengundangkan kita untuk menikmatiNya”. Tuhan ingin penyembahan kita dimotivasi oleh kasih, ucapan syukur dan sukacita. Jadi penyembahan bukan sekedar menyanyi dan berdoa kepada Tuhan. Penyembahan adalah gaya hidup menikmati, mengasihi dan memberikan diri untuk dipakai sesuai tujuan Tuhan. Maka ketika kita memakai kehidupan ini untuk kemuliaan Tuhan, maka itu adalah tindakan penyembahan. Amin

Pdt. JRM. Lumbanbatu, MTh

(Pdt Diperbantukan di Resort Jaya 1)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s