Ezer Kenegdo

Bahan Sermon Minggu, 27 April: I Petrus 1:3-9

Leave a comment

Thema : Kebangkitan Kristus Dasar Pengharapan, Iman dan Kasih

I. Pendahuluan

Sarana komunikasi yang dahulu umum dipakai oleh orang Yunani dan Romawi adalah surat. Demikian juga penulis I Petrus yang menyampaikan gagasan-gagasannya melalui surat. I Petrus diawali dan diakhiri dengan salam (1:1-2, 5:12-14). Surat ini ditujukan kepada jemaat Kristen yang tersebar di wilayah Asia Kecil bagian utara (1:1). Penulis menghendaki agar orang yang membaca surat ini sadar bahwa mereka akan menanggung penderitaan karena iman mereka. Namun, penderitaan tidak akan mengalahkan mereka karena Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk mengampuni dosa mereka, dan karena Allah telah membangkitkan Dia dari kematian. Orang Kristen berharap akan dibangkitkan menuju hidup baru, dan harapan itu sudah dimulai sejak pembabtisan.

Kelahiran Yesus di Betlehem dan kematian Yesus di Golgota itu penting dan amat penting, karena Yesus bangkit, Yesus hidup. Sekiranya saja Yesus itu lahir dan mati, tetapi tidak bangkit, tidak hidup lagi, apa bedanya Yesus dengan orang-orang dan pahlawan-pahlawan lainnya. Setelah Yesus mati, dan sebelum murid-murid Yesus mengetahui bahwa Yesus telah bangkit, murid-muridNya mengurung diri dalam kesedihan, ketakutan, kekecewaan dan keputusasaan. Namun, setelah mereka mengetahui Yesus bangkit, Yesus hidup segala sesuatu menjadi berubah. Ada semangat baru dan harapan baru. Kebangkitan Yesus Kristus menjadikan mereka semakin berani dan tidak takut lagi kepada bahaya yang makin besar yang mengancam jiwa dan keselamatan mereka. Demikian juga, umat Allah dalam nas ini yang sedang menghadapi penganiayaan/penderitaan karena iman, jangan sampai putus asa, karena Allah yang telah memilih mereka akan melindungi mereka sampai pada hari penghakiman ketika Yesus Kristus kembali. Dengan kebangkitan Yesus, Allah menganugerahi umat-Nya hidup baru dan pengharapan, sehingga mereka mampu bertahan menghadapi berbagai pencobaan.

II. Keterangan Nas

Ayat 3-4: Kebangkitan Yesus Kristus. Keunikan kekristenan terletak di sini. Kalau hanya soal punya nabi yang berkuasa, guru yang penuh hikmat, tokoh yang berbudi luhur dan baik hati, bahkan bersedia mati karena keyakinannya, “Kekristenan tidak ada istimewanya”. Jadi keistimewaan kekristenan ialah: Yesus bangkit. Itu sebabnya rasul Petrus mengajak umat Allah untuk mensyukuri rahmat-Nya yang besar, sebab dengan kebangkitan Yesus kita mengalami : Pertama: Melahirkan kita kembali (baca:mengalami kelahiran baru). Artinya bahwa kebangkitan Yesus membawa kita kepada status yang baru yaitu menjadi anak Allah (anak-anak terang). Lahir kembali akan menjadikan kita ciptaan Allah yang baru, hal itu hanya terjadi jika kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk memampukan kita meninggalkan manusia lama. Kerajaan Allah hanya akan menjadi bahagian dari orang-orang yang telah diperbaharui oleh Allah. Sehingga iman percaya kita kepada Kristus bukanlah sifatnya verbal hanya pada perkataan, namun menjadi pola hidup yang benar-benar diubah menjadi ciptaan Allah yang baru. Kehidupan dibawah ruang lingkup kuasa Roh Kudus baik dalam perkataan, pikiran dan perbuatan. Kedua: Menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa (baca:Kehidupan yang kekal). Anak-anak Allah yang percaya kepada Yesus Kristus akan mendapatkan hidup yang kekal. (Baca: Yohanes 3:16,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal). Itu sebabnya, kebangkitan Yesus Kristus membawa pengharapan yang baru bukan hanya tentang apa yang ada di dunia ini (tidak kekal), namun ada yang lebih berharga, yang lebih indah dari yang pernah kita lihat di dunia ini, yaitu harta yang kekal, yang tidak mau habis, punah, hancur, yang di simpan dalam Kerajaan Sorga, yakni hidup kekal yang dijanjikan Allah bagi orang yang percaya kepada Yesus (Lih. Yoh.14:1-6; Kol.3:1-4; I Tes.4:13-18; Ibr.4:1-11).

Ayat 5-7: Dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman. Dasar pengharapan orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah kuasa kekuatan Allah yang memelihara kehidupaan orang-orang yang percaya. Inilah yang membuat orang Kristen harus, “bergembira” walaupun saat ini harus berdukacita karena berbagai-bagai pencobaan. Maksud semua ini adalah untuk membuktikan kermunian imanmu- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api. Kalau saat itu tiba (baca: sedang menghadapi penganiayaan karena iman), tidak semua orang tahan dalam kesetiaan-Nya. Apakah karena kurang iman atau kurang berdoa ? atau kurang sungguh-sungguh mengikut Yesus ? Namun, yang pasti ketika kita menghadapi kesulitan (penganiayaan karena iman), jangan membuat kita putus asa dan mengeluh, tetapi hendaknya kita terus percaya kepada kuasa Allah, dan semuanya itu akan membuktikan kemurnian iman kita. Sebab kesetiaan itu bukan sekedar “tekad”. Kesetiaan itu tidak cukup ditunjukkan dengan sekedar “mau” atau “kepingin”. Namun kesetiaan yang murni itu harus diuji.

Ayat 8-9: Percaya dan mengasihi-Nya walaupun belum pernah melihat Dia. Kasih kepada Allah adalah dasar pengharapan orang Kristen. Kita harus hidup dalam dasar iman bukan melalui apa yang telah kita lihat. Sebab, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Kasih dan iman tidak dapat dipisahkan, contohnya: kalau kita mengasihi seseorang pastilah kita mempercayainya. Kasih dan imanlah yang meneguhkan pengharapan kita, bagaimana besar pengharapan kita kepada Allah akan ditentukan bagaimana besar kasih kita kepada Allah. Itu sebabnya, kita tidak perlu lagi takut menghadapi setiap kesulitan, namun kita akan terus bersukacita di dalam Tuhan. Bersukacita karena percaya kepada kekuatan Allah yang senantiasa memelihara kehidupan kita sampai kita meninggalkan dunia ini, bersukacita karena kita percaya bahwa kita sudah memiliki kehidupan yang kekal melalui iman kita kepada Yesus Kristus yang telah melahirkan kita kembali.

III. Kesimpulan

Babtisan Kudus yang kita terima membuat kita telah mati bersama dengan Yesus Kristus yang mati dan kebangkitan-Nya membuat kita menjadi ciptaan yang baru (dilahirkan kembali). “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” ( 2 Kor.5:15). Dengan demikian kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, tetapi hidup untuk Kristus. Maka tetaplah percaya kepada Yesus Kristus, dan lakukanlah kasih-Nya. Amin

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s