Ezer Kenegdo

Bahan Sermon Minggu, 20 April 2014: Paskah : Kisah Para Rasul 10:34-43

Leave a comment

Thema : Menjadi Pemberita dan Saksi Kebangkitan Kristus

1.Pendahuluan

Bagian ini mengisahkan suatu tonggak penting dalam perjalanan sejarah gereja, ketika gereja mulai menerima bangsa-bangsa lain juga. Hal ini dimulai ketika Petrus sendiri mau menumpang di rumah Simon, seorang penyakit kulit yang tinggal di tepi laut yang dianggap najis karena penyakitnya. Jadi kalau Petrus menumpang di rumahnya, sebenarnya Petrus sudah dianggap najis. Namun, Petrus ternyata tetap mau tinggal di sana. Apa yang Petrus lakukan ini merupakan awal yang besar bagi gereja untuk semakin membuka pintu penerimaannya lebar-lebar kepada setiap orang. Dengan menumpangnya Petrus di rumah Simon, sang penyakit kulit itu, menjadi pintu masuk penerimaan Kornelius oleh gereja.

Sejak kecil Petrus sudah dididik dalam pemisahan antara halal dan haram bukan saja dalam hal makanan, melainkan juga dalam hal berhubungan dengan manusia. Dalam keyakinannya, ada orang yang memang layak untuk didekati, tetapi juga ada orang yang harus dihindari, yaitu orang yang masuk dalam kategori najis, seperti orang non Yahudi. Orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa orang kafir itu tidak berharga dihadapan Allah. Bahkan kalau ada seorang ibu kafir yang sedang bersalin, ibu itu tidak perlu ditolong sebab ia hanya akan melahirkan anak kafir. Namun Tuhan mendidik Petrus dan menguah pandangannya itu. Di hadapan Allah, semua orang mempunyai kedudukan yang sama. Tidak ada seorang pun yang najis. Melalui sebuah penglihatan yang diberikan oleh Allah, “Tampaklah olehnya langit terbuka dan dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung” (Kis. 10:11-12). Lalu Tuhan menyuruhnya untuk makan makanan itu. Namun, Petrus menolaknya karena dalam keyakinannya, ia tidak boleh makan makanan yang najis. Tuhan kembali berkata kepadanya bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Tuhan, tidak boleh dinyatakan najis oleh manausia. Oleh karena itu, Petrus harus berubah. Tuhan mau menerima Kornelius, Petrus pun diminta juga untuk melakukan hal yang sama.

II. Keterangan Nas

Ayat 34-38, Sesungguhnya Allah tidak membedakan orang. Tidak ada orang yang betul-betul sama dengan orang lain. Bahkan, saudara kembar yang struktur genetiknya sama sehingga serupa dalam banyak hal ternyata berbeda dalam hal-hal tertentu. Tiap individu adalah unik. Tidak ada duanya, sifat kita beda. Selera kita beda, orientasi kita beda. Minat kita beda. Oleh sebab itu, keyakinan kita juga beda. Dengan kata lain, secara bentuk/wujud, memang manusia tidak ada yang sama persis, Namun secara esensi, manusia adalah sama-sama mahkota ciptaan Tuhan.

Roh Kudus bekerja melalui perbedaan untuk memperkaya wawasan rohani anak-anak Tuhan. Itu sebabnya Petrus berkata “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya (ayat 34-35). Penglihatan itu (10:11-12), telah memberi pencerahan bagi Petrus untuk menghayati bahwa keselamatan bukan hanya milik orang Yahudi saja. Kamatian dan kebangkitan-Nya (baca: Salib) mengingatkan kita bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang hanya pantas untuk dibinasakan oleh Allah. Semua kita, tidak ada yang terkecuali. Di hadapan manusia, mungkin kita kelihatan lebih baik, lebih hebat. Tetapi di hadapan Allah ? Nol. Kita sama semua. Kita sama berharganya dihadapan Tuhan. Tuhan Yesus mengasihi tanpa membedakan. KebangkitanNya menjadikan kita semua bersaudara. Kita semua pastilah berasal dari latar belakang yang berbeda; sifat dan karakter yang berbeda, pendidikan yang berbeda, hobby kesukaan yang berbeda, warna kulit yang berbeda, social ekonomi yang berbeda, suku/adat budaya yang berbeda. Namun ada satu yang sama, yaitu kita mempunyai Tuhan yang satu, yaitu Yesus Kristus yang telah menebus kita ketika kita berdosa (dalam kedurhakaan). Kebangkitan-Nya menjadikan kita bersaudara, mempersatukan kita untuk melaksanakan tugas pengutusan, yaitu memberitakan dan bersaksi bahwa Yesus adalah Hakim atas orang hidup dan orang mati (10:42-43).

Ayat 39-43: Diutus menjadi saksi. Dalam penjelasannya kepada Kornelius, Petrus menjelaskan bahwa mereka (Para Rasul) adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya ditanah Yudea maupun di Yerusalem. Petrus menerima Kornelius sebagai sesamanya, tembok pemisah antara orang Yahudi dan non Yahudi telah dirubuhkan. Hal ini bisa terjadi karena pekerjaan Tuhan. Tuhan memerintahkan supaya kita mengasihi sesama kita, tanpa terkecuali. Sesama kita bukan hanya orang yang seagama atau sesuku dengan kita, melainkan siapa pun. Karena itu, kita harus belajar dari dan menggali makna dari kisah Kornelius ini. Setelah Petrus menerima Kornelius, Petrus tetap menceritakan (bersaksi) tentang Yesus Kristus, Petrus menjelaskan siapa Yesus Kristus yang telah mereka salibkan hingga mati namun pada hari ketiga Ia bangkit dan telah menampakkan diri. Yesus juga memberi perintah agar mereka (Para Rasul) akan menjadi saksi-Nya, mereka akan menerima Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya, “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kis.1:8).

III. Kesimpulan

Selamat Paskah bagi kita semua. Alkitab tidak menceritakan bagaimana peristiwa paskah itu, simbol paskah bukanlah Yesus yang sedang bangkit dari kubur, tetapi kubur kosong, kain kafan yang terletak di tanah, kain peluh yang sudah tergulung”. Alkitab hendak mengatakan, Yesus benar-benar bangkit, tetapi bukan peristiwa itu yang paling penting, yang paling penting adalah KuasaNya. Kuasa apa ? yaitu kuasa kemenangan. Melalui kebangkitanNya, kita mengalami hidup yang berkemenangan. Kita harus menyadari dan menghayati bahwa kita lebih dari pada orang-orang yang menang (we are winners). Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen kita tidak boleh lembek seperti bubur, jangan minder dan putus asa, tetapi tetap mempunyai semangat (dari Roh Kudus) dalam memberitakan kebaikanNya (menjadi saksi-Nya).

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s