Ezer Kenegdo

Khotbah di GKPI Jelambar: Yohanes 3:1-17

Leave a comment

Thema : Dilahirkan Kembali untuk masuk kedalam Kerajaan Allah

Di dalam sejarah Tiongkok, ada seorang guru besar yang pergi mencari guru besar lainnya, yaitu Konfusius mencari Laozi. Hal ini menjadi salah satu legenda paling terkenal di dalam sejarah. Konfusius mencari Laozi karena mempunyai “firman” (dao) yang tidak ia miliki.  Tetapi Laozi tidak bangga ketika didatangi Konfusius yang sudah begitu terkenal. Pernyataan pertama yang ia lontarkan, “Singkirkanlah kesombonganmu dan segala niatmu yang tidak beres! Tanpa itu engkau tidak mungkin mengerti firman.”

Tamparan yang menyakitkan bagi Konfusius. Tetapi reaksi Konfusius sangat mengagumkan. Orang yang menjadi marah karena kesalahannya dikoreksi adalah atheis; orang yang belum punya Tuhan,  sehingga menganggap dirinya sebagai Tuhan.  Itu sebabnya ia akan menjadi marah kalau ditunjukkan kesalahannya.

Oleh karena itu, janganlah marah ketika dikritik, tetapi tanyakan mengapa dia mengkritik kita. Kalau memang kita pantas dikritik,  lebih baik ada orang yang mau mengkritik kita.  Hanya orang yang mau menerima kritikan dengan rendah hati, imannya akan terus bertumbuh.

Setiap hari  kita selalu bercermin sebelum kita pergi. Kita percaya cermin yang bersih dapat merefleksikan keadaan kita yang sebenarnya. Maka, ketika kita bercermin. sebenarnya kita siap dikritik oleh cermin itu. Maka saat cermin menyatakan sesuatu yang tidak beres pada diri kita, kita  tidak marah  dan memecahkan cermin itu.  Itulah yang dilakukan oleh Konfusius. Ketika ia dikritik oleh Laozi, Konfusius tidak marah. Ia merenungkannya dan mengatakan kepada muridnya, “Bagaimana ikan berenang di air, aku tahu; bagaimana burung terbang di udara, aku tahu;  tetapi bagaimana naga itu naik turun di alam semesta, aku tidak tahu.

Hari ini pertemuanku dengan Laozi bagaikan bertemu dengan naga.” Ia mengakui dirinya ditegur, tetapi dia tetap mengakui kebesaran Laozi.  Itu sebabnya, janganlah kita marah jika ada orang yang mengkritik.  Anggaplah itu Tuhan izinkan untuk mengoreksi diri kita.  Jadilah orang yang rendah hati dan mau dikoreksi. Ketahuilah, kerendahan hati yang sungguh adalah kerendahan hati yang kita nyatakan di hadapan orang yang lebih rendah dari kita. Inilah yang Alkitab ajarkan, “Jangan tinggi hati, bungkukkanlah dirimu terhadap orang yang lebih rendah darimu” (Rm. 12)

Saudara/i dan ibu-bapak yang dikasihi Yesus Kristus….

Hal yang demikian juga terjadi dalam nas perikop ini: Nikodemus adalah satu-satunya  seorang akademisi, pemimpin agama Yahudi, dan orang Farisi  ( KJV: There was a man of the Pharisees, named Nicodemus, a ruler of the Jews)   yang  dengan inisiatifnya sendiri datang menemui Tuhan Yesus. Dia datang menemui Yesus di waktu malam, karena dia takut ketahuan oleh kelompoknya yang akan berakibat buruk baginya. Dia menemui Tuhan Yesus karena dia merasa bahwa Tuhan Yesus memiliki sesuatu yang tidak ia miliki. Hal ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang rendah hati dan tidak pernah puas dengan pengetahuan yang ada padanya. Ia mau terus  untuk maju.  Nikodemus bukanlah orang yang cepat merasa puas dengan pengetahuan yang ia miliki, ia mau mengoreksi diri dan tidak mau menghina/merendahkan orang lain, Nikodemus juga tidak mau iri hati kepada mereka yang melebihi dirinya.  Nikodemus sangat berbeda dari orang-orang Farisi di zamannya.

Begitu ia bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus, dengan sportif dia memulai pembicaraan. Hal ini tidak mudah,  karena sebagai orang Farisi, ia merupakan bagian dari sekelompok orang yang tidak menyukai Tuhan Yesus. Tetapi dalam hal ini dia menunjukkan sikap yang bersahabat,  yang ingin bicara dari hati ke hati dengan Tuhan Yesus yang sangat ia kagumi. Dia berkata dengan sopan, “Rabi…” Hal ini sangat sulit bagi dia,  yang juga seorang rabi, bahkan lebih tua dan lebih senior. Namun,  inilah sikap agung yang harus kita pelajari dari Nikodemus.  Ia berani mengakui kelebihan orang lain, menghormati orang yang patut dihormati, bukan mencari dan membesar-besarkan kelemahan, kesalahan, dan kekurangan orang lain, agar semua orang memandang dirinya hebat.

Pertemuan Nikodemus dengan Yesus membawa hasil yang baik, Nikodemus menjadi memahami arti dari dilahirkan kembali, sehingga malam pertemuannya dengan Yesus  adalah malam sukacita bagi dirinya.

Setelah mereka bertemu, Yesus langsung mengarahkan kepada pokok persoalan yang sedang dipergumulkan oleh Nikodemus, yaitu tentang “Kerajaan Allah”. Yesus menjawab, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah”.  Tetapi Nikodemus belum dapat memahami penjelasan Yesus,  Nikodemus berusaha memahami penjelasan Yesus dengan kepintarannya, tetapi sungguh jauh berbeda dengan maksud Yesus.  Penjelasan Tuhan Yesus di ay.3, diartikan/dipahami Nikodemus dengan pikiran (akal budi) jasmani, Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali kedalam rahim ibunya dan dilahirkan kembali ?.  Nikodemus memberikan tanggapan kemustahilan akan apa yang telah Yesus katakan, sebab ia menanggapi dan mengartikannya dengan “masuk kembali ke dalam rahim ibunya”,  sementara yang Yesus maksudkan adalah seperti yang terlihat pada ayat 5 dan 8 yaitu suatu kelahiran “dari air dan Roh”  dan itu adalah “dari Allah” (1:12-13). Memang  perbuatan Allah adalah mustahil jika hanya ditanggapi dengan logika manusia. Kita akan mengatakan “bagaimana mungkin?” tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil (Luk. 1: 37).

Kembali Nikodemus bertanya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi ?  Maka supaya Nikodemus mengenal Diri-Nya dengan baik, Yesus menggunakan ceritera Perjanjian Lama tentang umat Israel di padang pasir, yang menghadapi bahaya ular-ular tedung,  yang gigitannya mematikan orang (Bil 21:4-9).  Karena itu Musa membuat ular dari tembaga sebagai tanda , dan menggantungnya di atas tiang. Bila ada orang dipagut/digigit ular, tetapi melihat kepada ular tembaga itu, maka ia tetap hidup.

Yesus juga tergantung di tiang salib. Maka setiap orang yang menderita berat, yaitu berdosa, tetapi memandang kepada Yesus di salib akan diselamatkan.

Apakah gerangan pesan atau ajaran, yang disampaikan kepada kita dalam percakapan antara Nikodemus dan Yesus?   Dalam diri Nikodemus itu,  kita semua, terutama siapapun yang merasa dirinya sebagai orang hebat, pandai, terpelajar, berjasa, berkedudukan tinggi, kaya, terkenal atau apapun lainnya, bahkan di bidang keagamaan, – semua ini mencerminkan keadaan batin seperti Nikodmus! Bagaimana  Nikodemus memahami perumpamaan yang disampaikan Yesus, bahwa ia harus dilahirkan  kembali, jikalau ia mau memasuki Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus? Ia merasa sudah tua, telah sangat berpengalaman, ia adalah orang beragama tinggi, anggota Sanhedrin. Bagaimana harus dilahirkan kembali? Yang dimaksudkan ialah kelahiran kembali secara rohani.

  1. Bagaimana sikap Nikodemus selanjutnya? Sesudah mendengarkan keterangan Yesus dalam percakapannya di malam hari?  Ia menemukan hasil sehingga malam itu menjadi mlam yang penuh sukacita.  Apalagi,  selanjutnya ia dapat melihat dan mengalami sendiri apa yang dilakukan Yesus sehari-hari,  terutama ketika ia meyaksikan sendiri apa yang diderita dan dialami Yesus, barulah ia sungguh mengenal Yesus. Sebab kemudian dalam suatu perde-batan di kalangan orang-orang Farisi dan imam-imam kepala  yang menyerang Yesus,  Nikodemus mempertahankan Dia (Yoh 7:51). Dan ketika Yesus mati di salib, untuk upacara pemakaman-Nya Nikodemus “membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya” (Yoh 19:39). Inilah teladan proses iman yang berkembang dan menjadi dewasa. Sekadar mengetahui tentang Yesus memang lain dari pada sungguh-sungguh mengenal Yesus.  Seperti Nikodemus, marilah kita makin mengenal dan makin erat bergaul dengan Allah dalam diri Yesus Kristus. Bukan hanya mengetahui sesuatu tentang Yesus, melainkan mengenal Dia, makin dekat dengan Dia. Bersatu dengan Dia. Kita harus makin menyadari makna kasih Yesus yang tergantung di tiang salib kepada kita.
  2. Persoalan yang sangat mendasar adalah masih seringnya orang Kristen kurang memahami arti dari babtiasan kudus. Babtisan Kudus adalah bukti bahwa kita sudah dilahirkan kembali (jadi bukan hanya sekedar mensahkan nama –mangalap goar kata orang batak atau supaya ditingtingkan), namun ketika kita dibabtiskan (babtisan  kanak-kanak atau dewasa, babtisan selam atau percik), artinya kita sudah disucikan/dibersihkan dari dosa, sehingga kita menjadi kudus dan Roh Kudus menguatkan kita untuk melakukan yang baik dan mejauhi kejahatan.

Untuk menyinggung soal babtisan, saya angkat moto (nasihat) John Wesley, “ In essentials, unity; in nonessentials liberty; in all things charity” ( Dalam hal-hal yang essensial kita bersatu, dalam hal-hal yang tidak esensial kita bebas, tetapi dalam segala hal kita saling mengasihi).

In essentials: adalah doktrin tentang Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

In nonessentials: contohnya bentuk kebaktian, kita bebaskan mengekspresikan iman kita melalui ibadah sesuai dengan tradisi gereja kita masing-masing, kalau gereja lain bertepuk tangan dalam ibadahnya mari kita hargai, atau kalau kita setiap memulai ibadah harus ada votum-introitus baru sah, mungkin gereja lain tidak perlu votum introitus.

Contoh kedua in nonessentials, model babtisan: kita bebas memakai bentuk dan cara babtisan sesuai dengan kepelbagaian tradisi gereja kita. Kalau ada gereja memakai babtisan selam, silakan. Kalau gereja kita memakai babtisan percik, jangan disalahkan apalagi dianggap tidak sah, karena semua atas nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus (yang essensial). Sehingga babtisan itu satu.

Lahir kembali akan menjadikan kita ciptaan Allah yang baru, itu terjadi hanya satu kali saja  selama hidup yakni melalui babtisan kudus. Seperti khotbah pada minggu lalu, kita yang pada mulanya diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Imago Dei) dan Tuhan telah memberikan tempat yang baik bagi manusia, namun karena dosa membuat hubungan manusia dengan Tuhan putus, membuat gambar Allah dalam diri manusia itu sudah kabur, rusak bahkan terkoyak-koyak, namun melalui kematian Yesus dan kebangkitanNya kita diciptakan kembali/dilahirkan kembali. Jadi Makna babtisan adalah: manusia lama kita dikuburkan bersama Yesus yang mati namun dibangkitkan kembali menjadi ciptaan yang baru.

 

Yesus Kristus adalah kehidupan dan keselamatan bagi kita, Ia telah datang ke dunia ini untuk menyelamatkan kita orang yang berdosa ini, agar memperoleh kehidupan yang kekal (eternal life). Khususnya di Minggu Reminiscere (Ingatlah Allah akan kasih-setiaMu). Kita akan menyambut perjalanan Yesus menuju Yerusalem, disitulah Yesus akan mengalami penderitaan untuk menebus manusia. Oleh sebab itu, kita semua adalah orang yang telah ditebus oleh Yesus, kita adalah orang-orang yang sudah dilahirkan kembali melalui babtisan kudus yang kita terima. maka, “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini”  (Rom.12:2). Tetapi hiduplah dengan berdasarkan nilai-nilai Tuhan sehingga hidup kita akan berbuah (Galatia 5:22). Amin

Doa:

Terimakasih Tuhan karena Engkau tidak membiarkan kami hidup dalam dosa, namun Tuhan telah menyelamatkan kami melalui Yesus Kristus. Biarlah pengenalan kami akan Yesus benar-benar membuat kami semakin dekat dan bersatu dengan Tuhan, agar hidup kami selalu berdasarkan nilai-nilai Tuhan sehingga hidup kami tidak serupa dengan dunia ini dan hidup kami akan berbuah.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s