Ezer Kenegdo

Sermon Minggu Okuli, 23 Maret 2014 : Mazmur 95:1-11

Leave a comment

I.Pendahuluan ( Thema : Berlutut Di Hadapan Tuhan dan Menaati Dia)

Kitab Mazmur adalah ibarat telaga jernih yang membayangkan setiap keadaan hati manusia yang berganti-ganti itu. Suatu  sungai penghiburan, yang walaupun banjir dengan air mata, tidak pernah gagal untuk membangkitkan semangat orang lemah. Suatu taman bunga yang tidak pernah kehilangan harumnya yang semerbak, walaupun beberapa bunga diantaranya mempunyai duri-duri tajam. Ibarat alat musik  yang melagukan setiap nada pujian dan doa, kemenangan dan kesusahan, kegirangan dan dukacita, pengharapan dan ketakutan, dan mempersatukan semua nada ini dalam suatu nyanyian pengalaman manusia yang menakjubkan.

Calvin berkata tentang kitab ini, “Tiap orang akan menemukan atau merasakan dalamnya gambaran dirinya sendiri, seakan-akan dalam cermin. Segala-galanya tercermin dalamnya: dukacita, kesedihan, ketakutan, kebimbangan, pengharapan, kesusahan, kekuatiran. Nilai kitab Mazmur ini amat besar, karena memberi bimbingan kepada perasaan kita. Itu sebabnya sejak disuratkan, Mazmur telah memegang peranan yang besar dalam kehidupan umat Tuhan. Pada zaman dahulu Mazmur digunakan  oleh orang Ibrani dalam kebaktian di Bait Allah, dan orang-orang Yahudi zaman sekarang juga menggunakannya dalam rumah-rumah sembahyang mereka, dan sampai sekarangpun masih senantiasa digunakan oleh semua Jemaat Kristus.

Ibadah  (Ibrani: hisytakhawa) atau  (Yunani: Proskuneo) yang berarti menyembah, mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja.  Berdoa dan bernyanyi merupakan bagian dari ibadah di Bait Allah (I Taw.16:4-6) dan umat banyak menggunakan Mazmur dalam setiap ibadah mereka.  Selain itu para nabi juga memerintahkan agar umat membawa korban persembahan kepada Allah sebagai persembahan berharga dan yang tidak bercacat.   Dalam Mazmur  95 ini dijelaskan beberapa petunjuk penting harus diamalkan oleh setiap umat yang beribadah.

II. Penjelasan Nas

Ayat 1-2, “Marilah…Pemazmur mengingatkan setiap umat menyembah Allah dengan bersorak-sorai untuk Tuhan. Ajakan ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak ingin hanya sebagian dari kehidupan kita, namun Ia meminta segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Allah tidak tertarik pada komitmen setengah hati. Dalam ayat ini pemazmur mengajak umat untuk tetap hidup menyembah Allah dan bersukacita di hadapan Allah, sebuah ajakan yang nampak  sederhana, namun tidak mudah untuk dilakukan. Sebab ada banyak orang yang di dunia ini yang sulit untuk bersukacita.

Ketika kita menyembah, Tuhan memperhatikan kata-kata kita dan melihat sikap hati kita, “manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati”. Karena penyembahan melibatkan sukacita di dalam Tuhan, penyembahan melibatkan emosi kita. Tuhan memberikan kita emosi supaya kita dapat menyembah-Nya dengan perasaan yang dalam, tetapi emosi itu harus murni, bukan pura-pura. Tuhan membenci kemunafikan. Ia menginginkan penyembahan yang penuh sukacita dan penuh ketulusan. Mengapa umat harus bersorak-sorai dan bersukacita dalam menyembah Allah ? Pertama:  Sebab Dialah Gunung Batu Keselamatan. Gunung Batu merupakan tempat perlindungan yang kokoh dan tempat berlindung agar terhindar dari serangan musuh. Kedua: Dialah sumber keselamatan kita. Keselamatan hidup yang dimaksud pemazmur itu menunjuk tiga tahapan, yaitu masa lalu hidup kita, masa kini dan masa yang akan datang (eskatologi). Keselamatan yang telah diberikan-Nya mendorong kita untuk bersorak-sorai dan bersukacita di dalam hidup ini, khususnya saat-saat beribadah di hadapan-Nya.

Ayat 3-6, Dalam ayat ini dijelaskan pemazmur suatu kredo atau pengakuan iman bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang besar, yanag mengatasi segala allah, yang menciptakan dan menjadikan dunia ini, bumi dan segala isinya adalah kepunyaan-Nya karena Dia yang menjadikannya. Bahkan termasuk bagian-bagian bumi yang paling dalam, Dialah yang menjadikannya (ay.4). Itu sebabnya pemazmur, mengajak seluruh umat untuk menyembah Allah (ay.6-7), ayat ini menngingatkan hidup ketaatan untuk beribadah dan menyembah Allah. Banyak umat yang malas beribadah, bahkan terpengaruh memuji allah lain, ada yang menyembah dewa Molokh (penguasa bagian dalam bumi), ada yang menyembah dewa Baal (penguasa puncak bukit yang tinggi), ada yang menyembah dewa Tiamat (penguasa patut untuk disembah. Ayat ini dengan tegas menolak setiap praktek penyembahan terhadap illah-illah lain atau kehidupan sinkritisme.

Ayat 7-11, Ada sejumlah peringatan terhadap umat Allah, Jangan keraskan hatimu seperti di Meriba dan di padang gurun. Situasi hidup di Meriba dan di padang gurun adalah situasi di mana umat sering mengabaikan perintah Allah, padahal umat sudah melihat bagaimana perbuatan Allah yang besar yaitu menyelamatkan mereka dari perbudakan dan menuntun mereka di padang gurun.  Ketidaksetiaan  mereka  kepada Tuhan membuat mereka tidak sampai ke tanah Kanaan (tanah yang dijanjikan Tuhan).  Oleh sebab itu,  pemazmur mengingatkan supaya jangan mengulangi dan memperlihatkan cara hidup yang negatif itu (cara hidup yang tidak berkenan dengan Tuhan).

III. Refleksi

Penyembahan yang bagaimanakah yang menyenangkan hati Tuhan ?  Pertama: Tuhan senang jika penyembahan kita autentik. Penyembahan adalah ketika roh kita merespon roh Tuhan, bukan merespon suatu nada musik. Padahal sekarang banyak orang Kristen yang beribadah ke gereja lain dengan alasan musik di gereja lain lebih mantap dan oke. Kedua: Tuhan senang bila penyembahan kita dilakukan dengan segenap akal budi. Yesus menyebut penyembahan tanpa akal budi sebagai “pengulangan yang sia-sia”,  karena Tuhan tidak senang dengan nyanyian asal bunyi, doa-doa yang klise yang rutin, atau penyembahan yang asal-asalan, namun harus melibatkan akal budi. Itu sebabnya, pemazmur mengajar dan mengingatkan kita, “marilah bersorak-sorai untuk Tuhan dalam keadaan apapun. Sebab Dialah Tuhan dan Allah Mahabesar dan tetap berkuasa melakukan segala harapan, bahkan melakukan mujizat dalam kehidupan setiap orang yang percaya kepada-Nya. Menyembah dengan segenap akal budi dan bersukacita karena pemeliharaan Allah atas hidup pribadi, keluarga, gereja dan bangsa.  Ketiga: Tuhan senang jika penyembahan kita praktis. Firman Tuhan berkata, “ persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah, itu adalah ibadahmu yang sejati”.  Mengapa kita harus mempersembahkan tubuh kita ? Mungkin kita pernah mendengar, “saya tidak dapat datang ke kabaktian nanti malam tetapi saya akan bersama dalam roh”. Tahukah kita arti dari perkataan itu ? tidak ada artinya, sebab selama kita berada di bumi, roh kita hanya dapat berada dalam tubuh kita. Jika tubuh kita tidak  ada di sana, roh kita juga tidak.

Ibadah yang sekedar menjadi rutinitas seringkali monoton menjadi pertemuan sesama manusia saja yang akan menimbulkan kejenuhan, namun ibadah yang sejati adalah ketika kita mengalami transformasi, sehingga hidup kita adalah hidup seperti dilukiskan Yesaya 40:31, “”Tetapi orang –orang yang menantikan Tuhan mendapat kekuatan baru, mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”. Amin

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s