Ezer Kenegdo

Khotbah Minggu 23 Pebruari di GKPI Satria : Mazmur 119:33-40

Leave a comment

Thema: Mengerti dan Menghidupi Firman Tuhan                                   

Firman Tuhan itu tidak seperti kata-kata lain. Firman Tuhan itu hidup. Ketika Tuhan berbicara, terjadi perubahan.  Segala sesuatu disekitar kita,  semua ciptaan ada karena “Tuhan berfirman”.  Alkitab (Firman Tuhan ) jauh lebih besar dari sekedar buku panduan pengajaran.  Firman Tuhan menghasilkan kehidupan, menciptakan iman, menghasilkana perubahan, membuat iblis takut, menyebabkan terjadinya mujizat, menyembuhkan luka-luka, membangun karakter, mengubahkan keadaan, memberikan sukacita, mengalahkan perlawanan, mengatasi godaan, memompa harapan, melepaskan kuasa, membersihkan pikiran kita, menjadikan segala sesuatu dan menjamin masa depan kita untuk selamanya ! oleh sebab itu, kita tidak dapat hidup tanpa Firman Tuhan.

Firman Tuhan adalah gizi rohani (Susu, roti, makanan padat dan madu) yang harus kita miliki untuk menggenapi tujuan kita. Keempat jenis makanan ini adalah menu Roh untuk pertumbuhan dan kekuatan rohani kita. Petrus menasihati kita, “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan”.

Dalam kehidupan sehari-hari, tinggal dalam Firman Tuhan mencakup tiga kegiatan:

Pertama: Kita harus menerima otoritasnya. Alkitab harus menjadi standar otoritas dalam kehidupan kita, kompas yang kita percaya untuk menunjukkan arah, nasihat yang kita dengar untuk membuat keputusan dan patokan yang kita pakai untuk mengevaluasi segala sesuatu. Kita tidak dapat mengandalkan kebudayaan, tradisi, nalar dan emosional, karena semuanya itu telah dinodai oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Kedua: Kita harus menerima kebenaran Firman Tuhan. Tidak cukup hanya percaya kepada Firman Tuhan, namun kita harus memenuhi pikiran dengan Firman Tuhan. Apakah yang dapat membuat kita berbahagia di hidup ini?  Yang dapat membuat kita berbahagia adalah ketika kebenaran Firman Tuhan hidup dan kita lakukan dalam kehidupan kita supaya Roh Kudus dapat mengubah kita dengan kebenaran. Oleh sebab itu, kita harus menerimanya, membacanya, menelitinya, mengingatnya dan merenungkannya. Banyak orang yang menyatakan “percaya pada Alkitab dari sampul depan sampai sampul belakang”, namun tidak pernah membacanya. Lalu bagaimana kita bisa bertumbuh ????  Oleh sebab itu, ada baiknya kita bisa mengurangi waktu untuk menonton tv atau membaca koran setiap harinya untuk membaca Alkitab. Jadi membaca Alkitab itu harus dengan teratur, dan jangan memperlakukan Alkitab seperti apotek, yang hanya mencari ayat sesuai dengan kebutuhannya.  Kalau kita pergi ke apotek (toko obat), kita tidak mencari semua obat, kita hanya mencari obat sesuai dengan kebutuhan penyakit kita, obat lain tentu tidak kita lirik.  Jangan  kita memperlakukan Alkitab seperti itu,  jangan kita membaca Alkitab hanya kalau kita membutuhkannya. Contohnya: Pada saat kita sedih kita membaca Matius 11:28, “Marilah kepadaKu, hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan padamu”. Sementara ayat 29 kita tidak meliriknya (karena isinya memerintahkan kita untuk memikul kuk).

Mungkin kita bisa menerapkan istilah,  “No Bible no breakfast”,  maka ketika suami atau anak-anak bangun pagi langsung meminta sarapan roti atau minum kopi, kita akan katakana, “no Bible no breakfast/coffee/noodles/bread, karena Firman Tuhan adalah gizi rohani yang sebenarnya. Kalau kita rajin mendengar firman Tuhan, pasti timbul iman. Tapi kalau kita rajin mendengar gossip, yang timbul gossip juga.

Ketiga: Kita harus menerapkan prinsip-prinsip Firman Tuhan. Menerima, membaca, meneliti, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan tidak ada artinya jika kita tidak menerapkannya. Kita harus menjadi “pelaku firman”. Tuhan Yesus berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu”.

Mazmur 119,  pasal terpanjang di Alkitab, berbicara tentang bahagianya orang yang hidup bersama Firman.  Pemazmur sendiri mengaku mendapat banyak manfaat dari merenungkan perkataan-perkataan Tuhan. Di antaranya: Firman Tuhan  (perintah-Nya) membuat lebih bijaksana (ayat 98),  membuat pemazmur berakal budi (ayat 99), mengerti (ayat 100), dan masih banyak lagi. Namun, rahasia kebahagiaannya tersingkap di ayat 97, yaitu  dalam hatinya yang penuh cinta: cinta akan Taurat Tuhan, yang merupakan ungkapan cintanya yang dalam kepada  Tuhan itu sendiri.

Saat ini banyak orang berpendapat bahwa “diberkati” berarti mempunyai banyak harta dan uang, dan “berbahagia” tidak jarang diberi arti yang dangkal, yakni merasa senang dan nyaman. Itu sebabnya, banyak orang  mengejar apa yang ditawarkan dunia sebagai orientasi mereka untuk hidup bahagia.  Uang, harta kekayaan, ketenaran, cinta asmara adalah hal-hal yang mereka anggap dapat memberikan kebahagiaan.  Namun,  Kitab Mazmur dan kitab-kitab lain mengatakan bahwa, diberkati atau berbahagia berarti menerima anugerah Tuhan dan melakukan apa yang dikehendaki Tuhan/melakukan pengajaran-Nya (Mzm. 1:1-2, 119:1, 14, 174).

Dalam perikop ini adapun yang harus kita lakukan agar kita merasakan kebahagiaan yang sebenarnya adalah:

Pertama, agar hidup sesuai dengan ketetapan-ketetapan-Nya (ay. 33).  Hidup sesuai dengan ketetapan-Nya berarti hidup di jalan yang benar, tidak gampang terpengaruh oleh godaan-godaan dunia ini, namun tetap berperilaku sesuai dengan kehendak Tuhan. Mengintip kesuksesan Yosua dalam memimpin bangsa Israel adalah karena ia bertindak  hati-hati sesuai seluruh hukum yang diperintahkan Allah kepadanya dan tidak mau menyimpang ke kanan atau ke kiri. Demikian juga kehidupan orang Kristen dalam kehidupan saat ini yang begitu banyak godaan-godaan dunia, orang Kristen tidak boleh lemah, jangan tawar hati, jangan kecut. Kemenangan dan keberhasilan kita di dunia ini ditentukan oleh sikap kita yang tegar, tidak setengah-setengah, tidak coba-coba, tidak takut menantang resiko apapun, harus full speed, firm, serta tidak kenal menyerah, tidak menyimpang dari standar moral karena godaan materi, berahi, dan kemuliaan atau ingin pujian. Namun harus tetap lurus sesuai dengan ketetapan-ketetapan-Nya.

Kedua, Senantiasa memegang Taurat Allah dan memeliharanya dengan segenap hati  (ay. 34). “Kasihilah Tuhan Allahmu  dengan segenap hatimu, dan  dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (baca: Matius 22:37-39). Artinya yang paling  penting dilakukan orang adalah kasih. Yesus berkata, Bukan semua orang yang berkata kepadaKu Tuhan, Tuhan, masuk ke dalam Allah, tetapi mereka yan melakukan kehendak Bapaku yang di sorga”. Kehendak Bapa di sorga ialah bahwa kita mendengarkan dan mengetahui firman-Nya serta mempraktikkannya di dalam hidup kita sehari-hari.

Ketiga, Merindukan Firman Tuhan (ay.40). Berbicara tentang kerinduan akan firman Tuhan, ketika kekeristenan sedang bertumbuh pesat di Cina dan mereka (jemaat di Cina) kekurangan Alkitab, sehingga untuk mengatasi kerinduan mereka untuk membaca Alkitab maka 1 Alkitab dipakai untuk 10 orang, lalu apa yang mereka lakukan ? mereka kemudian membelah Alkitab menjadi 10 jilid, begitu hebat kerinduan mereka. Tetapi kita di Indonesia, bagaimana ?? kadang-kadang satu orang mempunyai 3 Alkitab, ada yang dibeli sendiri,  ada yang dapat hadiah ketika sidi, ada yang dapat hadiah dari pernikahan. Tetapi apakah pernah dibaca ? jangan-jangan kita tidak pernah membacanya.

Mengapa kita merindukan firman Tuhan ? di atas sudah saya jelaskan karena firman Tuhan dapat mengubah keadaan, dari yang tidak ada menjadi ada (creation ex nihilo), Firman Tuhan sanggup memberikan kekuatan dan semangat terhadap setiap persoalan dan pergumulan hidup. Firman Tuhan sanggup menuntun dan menunjukkan jalan yang harus kita lakukan. Dan terlebih-lebih lagi, Firman Tuhan itu adalah gizi rohani kita. Yesus berkata, Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat.4:4). Manusia memang tidak bisa hidup tanpa roti, tanpa makan, tanpa uang. Namun manusia hidup bukan hanya dari roti, dari makan, dan dari uang.

Kesimpulan :

–          Untuk melakukan semua  ini kita harus setiap hari melakukan tiga exercise: Intellectual exercise (dengan belajar, belajar dan terus belajar), Emotional exercise (dengan mengasihi, memberi, mengampuni dan peduli terhadap sesama dan lingkungan), dan Spiritual exercise (dengan rajin membaca firman Tuhan, rajin berdoa, rajin beribadah di gereja dan rajin melakukan saat teduh setiap pagi.

–          John Stott menulis, “Melalaikan Alkitab berarti mengabaikan Tuhan”. Pemazmur menghidupi kebenaran itu dengan cara “Mencintai Tuhan berarti memperhatikan Firman-Nya.” Artinya,  hidup umat Tuhan yang bergantung kepada FirmanNya akan mendapatkan kesegaran setiap waktu. Walau keadaan tidak seperti yang diharapkan, tetapi ketika hidup di dalam FirmanNya, maka Tuhan akan memberikan suatu kekuatan baru yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Dengan kekuatan itu kita dapat menghadapi setiap masalah dan menjalaninya dengan penuh keberanian, sehingga kita dapat menyelesaikannya.

–          Yesus adalah firman Allah yang melalui-Nya manusia beroleh jalan kebenaran dan keselamatan. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh.14:6). Amin

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s