Ezer Kenegdo

Kidung Agung = Kidung Cinta Kasih Kristus ( Oleh: Jojor Resmi M. Lumbanbatu)

Leave a comment

 

I.Pendahuluan

Dikalangan Orang Kristen Kitab Kidung Agung termasuk kitab yang jarang bahkan hampir tidak pernah dibacakan atau dibahas dalam pertemuan-pertemuan resmi seperti dalam kebaktian Minggu maupun dalam Penelahan Alkitab (PA). Kemungkinan Orang Kristen membacanya hanya secara pribadi atau membacanya ketika berada di kamar tidur.

Keunikan isinya yang dianggap membicarakan hal-hal yang bersifat erotis dan tabu yang dipandang tidak seharusnya masuk ke dalam Kanon Alkitab. Namun akhirnya Kitab Kidung Agung tetap memiliki tempat terhormat di dalam Sinagoge-sinagoge Yahudi dan Gereja-gereja Kristen. Di Israel, kitab ini selalu dibacakan pada hari ke-8 perayaan Paskah Yahudi setiap tahun. Melalui penafsiran alegoris para ahli Yahudi mengartikan isi Kitab Kidung Agung menggambarkan ”Kasih Allah terhadap Israel”.

Para doktor Jahudi juga menyarankan orang-orang muda mereka tidak membacanya sampai mereka berumur 30 tahun. [1]  Padahal sebenarnya, Kitab Kidung Agung menunjuk kepada hubungan Kristus dan jemaatNya, maka Kidung Agung mempunyai arti yang indah dan dalam sekali. Inilah yang menyebabkan Kitab ini tak ternilai harganya bagi orang yang mengasihi Tuhan.

Kitab Kidung Agung memang ada kesan banyak aspek erotisme asmaranya, namun penuh dengan kiasan sensual  yang santun, pelukisan perasaan dan keindahan cinta kasih dalam pernikahan yang romantis. Hal ini sangat jelas sekali disampaikan oleh Bapak Dr.Anwar Tjen dalam kuliah Colloqium Biblicum,  yang mengangkat tulisan Sr.Elliot: ”Penyair Kidung Agung menghormati dan meneguhkan keindahan dan tatanan yang diletakkan Allah dalam semua ciptaan. Sama sekali tidak ada dikotomi antara lingkup ’profan’ hidup manusia. Allah, hikmat, tatanan dan kehadiran-Nya dapat ditemukan dalam segala sesatu. Hubungan cinta yang bergelora, sesungguhnya, dengan mudah terbuka untuk mengenal ”nyala api Yahweh”.

”Karena cinta kuat seperti maut,

keagairahan  gigih seperti  dunia orang mati,

nyalanya adalah nyala api,

seperti nyala api Tuhan ! (Kidung Agung 8:6)

II. Kanonitasnya

Kitab Kidung Agung tidak segera diterima ke dalam kanon Yahudi, hal ini nampak secara tidak langsung dalam Misyna (Yadaim 3:5). Penolakan atas Kidung Agung masuk Kitab Kanon pasti bersumber pada sifat erotiknya.[2]  Penegasan Rabbi Akiba (50-135 M) dalam Misyna Yadaim 3:5: semua kitab ketubim adalah kudus tapi kitab Kidung Agung adalah yang paling Kudus (all the writings (ketubim) are holy but Song of Songs is the holy of holies). [3]  Penegasan ini untuk mengatasi pihak yang menentang penerimaan kitab ini dan menetapkan kedudukannya dalam kanon untuk selamanya.

Jelaslah sifat erotis Kidung Agung menimbulkan keberatan. Tetapi akhirnya keberatan itu dianggap kurang penting dibandingkan dengan hubungan Kidung Agung dengan Salomo, dan penafsiran-penafsiran alegoris oleh para rabi dan orang Kristen mengurangi nada sensual kitab ini. Orang Yahudi mulai menemukan di dalamnya suatu gambaran mengenai kasih Allah yang tiada taranya bagi Israel, sehingga akhirnya mereka tidak ragu-ragu menerimanya sebagai Kitab Suci.

III. Ciri-ciri Sastranya

Banyaknya percakapan pribadi dalam Kidung Agung mempunyai dua bentuk utama yaitu: dialog (mis. Kid. 1:9) dan senandika-solilokui-percakapan sendiri dengan diri sendiri (mis. Kid. 2:8, 3:5). Sukar menentukan siapa teman bicara si pembicara  kecuali dalam percakapan dua kekasih. [4]  Kekuatan syair ini terletak pada kehangatan cinta kasih dan penyerahan diri, dan terutama dalam kekayaan lukisan yang menggambarkan tokoh yang saling cinta dan cinta kasih mereka,  sehingga sebenarnya Kitab Agung bukanlah tulisan hikmat. Tetapi karena hubungannya dengan Salomo dan  mungkin karena  disalin, dipelihara dan disebarkan oleh kelompok-kelompok berhikmat, maka kitab itu dapat dipelajari bersama-sama dengan sastra hikmat.

Menurut Modern Reader’s Bible, karangan Dr.Richard G. Moulton, Kidung Agung terdiri dari ”tujuh adegan percintaan yang dirangkaikan menjadi satu”.  Nama adegan-adegan itu adalah sebagai berikut :[5]

Adegan 1 : Hari perkawinan Raja dikenang kembali (1:1- 2:7)

Adegan 2 : Kenangan akan penyataan cinta Pengantin laki-laki (2:8 – 3:5)

Adegan 3: Kenangan akan Hari Pertunangan (3:6 – 5:1)

Adegan 4: Pengantin Perempuan diganggu oleh mimpi buruk (5:2 – 6:3)

Adegan 5 : Renungan Raja tentang Pengantinnya (6:4 – 7:10)

Adegan 6 : Pengantin Perempuan rindu akan rumahnya yang lama (7:11 – 8:4)

Adegan 7 : Memperbarui kasih di Libanon (8:5 – 8:14)

Beberapa bentuk puisi cinta yang telah dikenali dalam Kidung Agung :[6]

1. Kidung Penggambaran

Dalam bentuk kuno ini sebagaimana terbukti dalam tulisan Babel, Mesir, dan juga Arab modern, masing-masing kekasih menggambarkan keindahan pasangannya dalam bahasa sangat bersifat kiasan. Gambaran-gambaran ini menyapa pasangan masing-masing, sambil mendorong keduanya untuk mempersiapkan diri berkasih-kasihan (lih. Kid.1:15,16).

2. Penggambaran diri

Hanya gadis yang menggunakan bentuk ini, biasa untuk menyangkal secara sopan kecantikan yang dinyatakan kepadanya (Kid.1:5-6; 2:1). Gambaran dirinya dalam Kidung Agung 8:10 tampaknya membanggakan keperawanan dan kedewasaannya.

3. Kidung Kekaguman

Yang menjadi perhatian adalah pakaian atau barang hiasan yang dipakai oleh sang kekasih (mis. Perhiasan dalam Kid. 1:9-11, 4:9-11). Kidung Agung 7:7-9 memperlihatkan nafsu yang ditimbulkan oleh kekaguman seperti itu, sang kekasih rindu untuk memiliki orang yang begitu ia kagumi.

4. Kidung kerinduan

Keinginan yang kuat dari kedua kekasih terutama pada waktu berpisah, dikumadangkan dalam kidung-kidung (lih. Kid. 1:2-4,  2:5-6,  8:1-4, 6, 7). Bentuk khasnya berupa keinginan untuk bercinta atau ajakan untuk bercinta.

IV. Penulisan Kitab Kidung Agung

Istilah Kidung Agung berasal dari bahasa Ibrani “Syir hasysyirim” atau “Syiru I asyar” terjemahannya adalah “nyanyian dari segala nyanyian” atau Kidung yang terbaik yang akbar atau teragung” (Kid.1:1). Dalam Septuaginta berbahasa Yunani dipakai kata “asma asmaton”. Kitab Suci Vulgata berbahasa Latin dipakai kata “canticum canticorum”, sedang bahasa Inggrisnya “the song of songs”. Dalam Alkitab bahasa Indonesa diterjemahkan dengan judul “Kidung Agung”. [7]  Meskipun segala perincian mengenai kitab ini tidak jelas, tetapi nampaknya bisa diperkirakan muncul pada awal zaman Helenis, karena didalamnya nampak ada Aramaisme (Misalnya 1:12 ; 2:7) dan kekhasan bahasa Yunani (3:9) tetapi dimungkinkan juga adanya nyanyian-nyanyian yang boleh jadi sudah tua.

Kidung Agung  berasal dari kerajaan Juda, dari pesta panen dalam perayaan sukacita dalam keluarga. Merupakan suatu puisi cinta yang biasa dilakonkan dalam suatu drama-drama cultis di Asia  Dekat. Puisi-puisi seperti ini sangat banyak ditemukan dalam budaya Arab dan Ibrani yaitu nyanyian dalam bentuk metafora yang menggambarkan keindahan tubuh secara detail mengingat penciptaan manusia dan hakekat dari tubuh manusia itu sendiri. [8]  Hampir sama dengan yang dikatakan Cheryl Exum, tubuh perempuan menjadi tontonan. Pembaca diajak menjadi voyeur (orang yang memperoleh kenikmatan seksual dengan menyaksikan orang telanjang atau orang yang sedang berhubungan seks).

”Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi ” (Bnd. Kid.5:2-8). Para pembaca laki-laki dan perempuan diajak untuk menikmati keindahan tubuh perempuan ini dengan tatapan laki-laki. Walaupun tubuh laki-laki dipertontonkan, namun deskripsi mengenai tubuh laki-laki terkesan lebih statis, kurang imajinatif dan kurang sensual (Kid. 5:10-16).

Penulis Kidung Agung  menurut tradisi ditulis oleh Salomo. Pandangan ini didasarkan pada acuan yang menunjuk padanya sepanjang kitab ini (Kid.1:5; 3:7, 9, 11), terutama dalam bagian judul (Kid. 1;1). Kata Lisylomo (Kid.1:1), yang secara harafiah berarti pada Salomo, dapat menunjukkan pengarangnya, tetapi mungkin juga berarti untuk Salomo atau dengan gaya Salomo.[9]   Permasalahan mengenai siapakah penulis Kidung Agung bisa dilihat dari judulnya yang menyatakan secara tidak langsung bahwa Salomo adalah penulis syair tersebut, bahwa syair tersebut dipersembahkan kepadanya, atau bahwa syair tersebut mewakili nyanyian-nyanyian yang digubah tentang dirinya sebagai tokoh utama.[10]

Penyesuaian  cinta dan kesetiaan yang diungkapkan disini dengan kelakuan Salomo yang mengadakan perkawinan politis dan mendapat selir-selir yang berlebihan (lih. I Raja 2). Maka  Luis Stadelman (dalam makalah Dr.Anwar Tjen), juga memaparkan tujuan penulisan Kidung Agung oleh penyair bukan karena ingin bernostalgia tentang kejayaan masa silam, melainkan dengan tujuan untuk memperlihatkan bahwa kerajaan adalah institusi yang paling mampu membentuk masa depan bangsa itu. Perjanjian antara raja dan rakyatnya, yang terpadu dalam hubungan fundamental antara Yahweh dan umat pilihanNya merupakan salah satu prinsip konstitutif kerajaan Daud sebagai institusi politik. Hubungan semacam ini dirumuskan bukan dengan bahasa romantisme yang intim melainkan dengan terminologi yuridis dari perjanjian-perjanjian politik pada zaman kuno. Salah satu istilah untuk itu ialah ”cinta” yang digunakan sebagai sinonim untuk perjanjian-perjanjian politik antara negara-negara, raja-raja, kelompok-kelompok sosial, ketika diformalkan dengan perjajian tertulis. Karena itu, ungkapan cinta gadis Sulam kepada Salomo mengacu kepada perjanjian politis antara raja dan rakyat.

Salah satu aspek yang sangat menarik bagi saya ketika mengikuti kuliah Colloqium Biblicum yang disampaikan oleh  Dr. Anwar Tjen yang mengangkat tulisan Dr. Max N. Pusin, yaitu kemiripan demikian jelas mendukung teori ”dramatis” mengenai seorang perempuan yang dipaksa untuk pisah dari kekasihnya; ini juga memberi dukungan yang penting terhadap beberapa pendapat bahwa karya ini ditulis oleh ” seorang perempuan”. Mungkinkah seorang laki-laki, seniman sehebat apa pun, dapat mengenal dan melukiskan begitu nyata mimpi-mimpi seorang perempuan?…”

Beberapa fakta lain juga disebutkan oleh Pusin untuk mendukung gagasan ini:

  1. Lebih dari pada 85% isinya mengengai perempuan
  2. Tokoh utamanya seorang perempuan
  3. Baris-baris Salomo yang monoton mengenai keindahan tubuh selalu diinterupsi oleh gadis Sulam yang bergairah
  4. Salomo dan saudara-saudaranya agak buruk digambarkan dalam kidung tersebut
  5. Figur ibu sering disebut-sebut, tanpa menyebut ayah sama sekali
  6. Cinta romantis dipertentangkan dengan perkawinan yang direkayasa dengan pertimbangan harta (Kid.8:7), ataupun kuasa (Kid. 8:11-12)

Sedangkan menurut Alkitab bersifat Androsentris, Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru naskahnya ditulis oleh laki-laki dengan pandangan tersendiri dan mula-mula dialamatkan terutama bagi kaum laki-laki sebagai imam, pengajar dan pemberita. Nada tersebut dipertajam lagi oleh tafsiran patriarkal. Alkitab dibentuk oleh kaum laki-laki dalam budaya Patriarkal, sehingga banyak pengalaman dan pernyataan yang ditafsirkan oleh kaum laki-laki dari sudut pandang patriarkal. Usaha penafsiran dari abad ke abad dan penentuan kitab-kitab mana yang diterima oleh umat (dalam ”kanon”) menunjang pemahaman patriarkal dan meniadakan apa yang masih tersirat tentang pengalaman perempuan atau, saat ia masih terpelihara, ia ditafsirkan secara androsentris[11]  Itu sebabnya Schussler Fiorenza menekankan bahwa ”menganalisis secara kristis naskah Alkitab yang androsentris berguna secara positif untuk merekonstruksi kembali (membangun) dari permulaan umat Kristen untuk mengembangkan suatu kesadaran Alkitabiah yang feminis.[12]

Kalau dalam Alkitab umumnya perempuan dilihat sebagai jenis kelamin kedua (second sex), dalam Kidung Agung sebaliknya perempuan dilihat setara dengan laki-laki. Perempuan justru tampak sebagai pengambil prakarsa dalam bermain cinta, malah sering lebih ”berani”daripada laki-laki (bnd. Kid.8:5). Suara perempuan lah yang mengungkapkan baris-baris teragung tentang cinta : ”Karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api, seperti nyala api Tuhan ! (Kid.8:6). Hendaknya kaum perempuan mengetahui hal in, sehingga semua perempuan mampu mewujudkan keutuhan hidupnya dan berperan menghayati bakat dan kesempatannya sejauh mungkin dan dengan itu menunjang pembangunan kemanusiaan yang secara utuh. Inilah yang dipikirkan oleh teologi feminis, menentang dengan tegas segala lembaga yang mengeksploitasi perempuan, membatasi mereka pada peran tertentu, menyangkal kesempatan bahwa mereka dapat mewujudkan bakat dan kemungkinannya  sambil menempatkan mereka pada kedudukan yang rendah. Maka dalam Kitab Kidung Agung perempuan dapat melihat bahwa kedudukan perempuan dan laki-laki setara, dimana perempuan justru pengambil prakarsa dalam bermain cinta dan lebih berani daripada laki-laki untuk mengumandangkan keagungan cinta Tuhan yang seperti nyala api Tuhan.

V. Cara Menafsirkan Kitab Kidung Agung

Kidung Agung mendapat tafsiran-tafsiran yang sangat aneka ragam.

5.1. Tafsir Alegoris

Metode alegoris adalah cara yang paling tua dan tetap merupakan pendekatan yang paling populer kepada Kidung Agung dalam tradisi Yahudi dan Kristen, kendatipun Kitab itu sendiri sama sekali tidak menyatakan bahwa kisah itu merupakan sebuah alegori.

Teori Alegoris tidak percaya bahwa syair ini berdasarkan fakta sejarah kasih raja Salomo dan Sulam, dan menganggap segenap syair itu hanya mempunyai arti kiasan saja dan pandangan yang bersifat mistik.[13]   Ada beberapa keterangan-keterangan yang dibentangkan teori ini yang dianggap sebagai angan-angan belaka. Misalnya: rambut pengantin perempuan diaggap kiasan segenap bangsa di dunia yang bertobat. Hal ini mengakibatkan teori ini tidak dapat dianggap serius. Demikian halnya yang diungkapkan oleh Sr.M.Timothea Elliot,R.S.M.dalam disertasinya mengenai kitab ini menganggap tafsiran alegoris sebagai kesalahan besar, karena dalam teks Kidung Agung tidak diberikan ”kunci” untuk penafsirannya yang biasanya diberikan dalam teks yang bermakna alegoris.

Namun tidak dapat disangkal, ribuan orang Kristen dan orang Yahudi telah memperolah manfaat rohani dari penafsiran Kidung Agung secara alegoris. Dari penafsiran alegoris Yahudi dalam Misyna, Talmud dan Targum dijelaskan bahwa Kidung Agung menggambarkan ”kasih Allah terhadap Israel”, karena itu  Kidung Agung dipakai pada hari Paskah untuk mengingat perjanjian kasih Allah.

Adapun kelemahan dari penafsiran alegoris adalah: penafsiran alegoris tidak dapat dipertangungjawabkan secara ilmiah, karena rincian-rinciannya ditafsirkan dengan seribu satu cara, dan tidak ada metode yang sah untuk menegaskan atau menyangkal sudut pandang yang bertentangan. Satu lagi kelemahannya yaitu tidak ada petunjuk apa pun dalam Kidung Agung sendiri bahwa kitab itu tidak harus ditafsirkan secara harafiah. [14]

5.2. Tafsir Dramatis

Pendekatan dramatis memahami Kidung Agung sebagai sebuah sandiwara Ibrani kuno. Pandangan ini, yang kelihatan dalam tradisi gereja sejak abad ke-3 Masehi, sebagian besar didasarkan pada analogi dari drama tragedi Yunani yang berkembang dalam abad ke-6 S.M. Syair Kidung Agung dianggap sebagai naskah drama. Hal ini diakui oleh beberapa peneliti kesusastraan yang memperlakukan kitab ini sebagai drama, seperti Origenes kira-kira 240 sM, dan Milton abad ke-17.

Tafsir dramatis pada abad ke-19, ada dua bentuk analisis dramatis yang digemari. Ulasan Franz Delitzsch menemukan dua pelaku utama, yaitu raja Salomo dan gadis Sulam. Teori kedua pelaku ini biasanya memandang Kidung Agung sebagai drama yang memuji cinta kasih yang sifatnya lebih daripada cinta jasmani saja. Sedangkan teori dramatis yang diusulkan oleh Ewald dan dikembangkan oleh Driver, yang mencakup tiga pelaku, yaitu sang gadis, Salomo dan seorang gembala (kekasih sebenarnya gadis itu).[15]  Tafsiran secara drama dengan dua pelaku utama memperlihatkan pernikahan yang berbahagia antara Salomo dan gadis Sulam. Pelajaran yang diberikan oleh tafsiran ini ialah agar pernikahan orang Kristen rukun dan bahagia seperti  pernikahan Salomo dan gadis Sulam. Tafsiran secara drama dengan tiga pelaku utama mengajar bahwa hidup pernikahan orang Kristen harus menjunjung tinggi kesetiaan kepada pasangan. Meskipun ada rayuan dari pihak ketiga, tetapi suami atau istri tidak boleh jatuh oleh rayuan tersebut. Tafsira ini juga memberikan pelajaran rohani yang baik. Sebagai pengantin perempuan Kristus (gadis Sulam), orang Kristen harus setia kepada Tuhan (gembala) dan tidak boleh mencintai dunia ini (Salomo).

Namun, jika Kidung Agung berbentuk drama tentu isinya cerita bersambung. Cerita pasal 2 terjadi sesudah peristwa pasal 1, dan peristiwa pasal 3 terjadi sesudah peristiwa pasal 2, dan demikian selanjutnya. Drama itu membentangkan suatu cerita: sebab itu urutan dalam suatu drama tidak boleh dibalik. Jika Kidung Agung suatu drama, maka cara menafsirkannyapun harus dari sudut drama pula. Sebaliknya, jika Kidung Agung adalah rangkaian adegan-adegan atau beberapa adegan yang digabungkan menjadi satu, maka cara menafsirkannya tidak terikat pada urutan, karena adegan itu boleh diambil dari bagian cerita yang mana jugapun, tanpa perlu memikirkan kronologisnya.

5.3. Tafsir Naturalistis

Teori Naturalistis mengatakan Kidung Agung hanyalah himpunan nyanyian kasih sayang, atau dendang-dendang cinta kasih yang dikumpulkan mengingat keindahan bahasanya. [16]  Beberapa ahli melihat Kidung Agung sebagai suatu puisi atau kumpulan puisi cinta yang dinyanyikan. Karena itu, kekuatan syair itu tidak terletak pada suatu puncak yang tinggi, melainkan pada pengulangan-pengulangan yang kreatif dan lembut dari tema-tema cinta. Cinta yang dirindukan bila berpisah, contoh Kidung Agung 3:1-2:

”Diatas ranjangku pada malam hari kucari jantung hatiku.

Kucari, tetapi tak kutemui dia.

Aku hendak bangun dan berkeliling di kota;

Di jalan-jalan dan di lapanga-lapangan kucari dia, jantung hatiku.

Kucari, tetapi tidak kutemui dia.

Nyanyian-nyanyian ini tidak mempunyai arti kiasan atau lambang, walaupun mungkin bertujuan mengutarakan kasih manusia yang ideal.

5.4. Tafsir Lambang

Teori lambang terletak antara teori naturalistis dan teori alegoris. Teori lambang mengatakan Kidung Agung mempunyai dasar sejarah. Tapi, selaras dengan firman Tuhan yang lain, juga mengandung tujuan agamawi dan isi rohani. Dalam kitab ini dilukiskan teladan kasih manusiawi, guna memimpin jiwa kita ke dalam penghayatan tentang makna persekutuan dengan Allah. Memang kenyataan-kenyataan itu adalah fakta-fakta sejarah, tapi untuk tujuan agamawi maka fakta-fakta sejarah ini lalu diangkat ke dalam alam puisi. Oleh pengilhaman Roh Allah, maka kenyataan-kenyataan itu dilukiskan secara ideal, dan diberi makna rohani. [17]  Arti lambang-lambang atau simbol-simbol yang digunakan, misalnya  Kidung Agung 4:1-15 :

–          Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead (ay.1)

–          Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur (ay. 2)

–          Lehermu seperti menara Daud, dibangun untuk menyimpan senjata (ay.4)

–          Dadamu seperti buah kurma, ingin aku memanjatnya

Kitab Suci berulangkali menggunakan hubungan perkawinan untuk melambangkan persekutuan bangsa Israel dengan Allah, dan persekutuan Gereja dengan Kristus, serta persekutuan masing-masing orang dengan Tuhan.

5.5. Tafsir Tipologis

Metode ini berusaha menghindari subjektifitas tafsiran alegoris dan mempertahankan pengertian harfiah puisi itu, dengan menekankan tema-tema utama tentang kasih dan pengabdian, bukan tentang rincian-rincian kisah itu. Dalam kehangatan dan kekuatan kasih sayang secara timbal balik antara kedua kekasih itu, para penafsir tipologi ini mendengar nada hubungan antara Kristus dan jemaat-Nya. [18]  Model tipologis mengakui kesejarahan kitab itu (entah itu memperingati pernikahan Salomo dengan puteri Firaun ataukah dianggap sebagai rayuan cinta sang raja terhadap gadis Sulam).

Dari semua metode penafsiran (metode pendekatan), pendekatan alegori sangat mendominasi pemikiran protestan hingga masa-masa terakhir ini, dan diantara pendukungnya  seperti Hengstenberg dan Keil. Metode yang dekat sekali dengan metode alegori ialah tipologi dan perlambangan. Metode ini mempertahankan makna harfiah syair Kidung Agung, tapi mengakui juga adanya makna yang lebih tinggi dan lebih rohani yang dilambangkannya. Sambil menyingkirkan hal-hal yang berlebih-lebihan dalam penafiran rinci alegori, metode tipologi menekankan tema-tema utama yakni cinta kasih dan penyerahan diri, dan menjumpai dalam cerita ini lukisan hubungan kasih Kristus dengan orang yang percaya kepada-Nya.

VI. Kidung Agung  = Kidung Cinta Kasih Kristus

Dalam kitab ini, Salomo mengungkapkan rasa kasmarannya kepada gadis Sulam yang dilukiskan sebagai gadis biasa dari pedesaan, menarik dan jelita. Perasaan Salomo terpikat secara mendalam dengan gadis ini sebagaimana biasanya orang terpikat kepada kekasih dan pengantin pertamanya. Kiasan cinta ini dapat menjadi perlambangan kasih Allah kepada manusia. Allah sering menggambarkan dirinya adalah suami bagi umatNya.

Putri-putri Yerusalem yang diungkapkan dalam kitab ini menggambarkan para perempuan yang dinikahi oleh Salomo, yang sebenarnya buta karena terpikat dengan kebahagiaan yang semu yang ditawarkan kepada mereka melalui segala kemegahan duniawi yang dimiliki Salomo. Para putri Yerusalem ini mewakili gambaran dari para perempuan yang tidak lagi melihat cinta dan kesetiaan yang benar sebagai sesuatu yang diperjuangkan, dimiliki dan dipertahakan. Kehidupan yang materialistis dan hedonistis membuat mereka rela dan senang hati mengabaikan kesucian dan harga diri dan menyerahkan hidup mereka kepada keinginan sang raja.  Dengan demikian mereka tidak mengingat dan tidak memperdulikan hukum-hukum Ibrani yang mengharuskan seorang gadis menjaga keperawanannya sampai pada hari perkawinannya. Jika ini tidak dapat dibuktikan, hukumannya tidak tanggung-tanggung, yakni dilempar dengan batu sampai mati (Ul. 22:20-21).  Berbeda dengan gadis Sulam yang tetap setia pada kekasihnya sang penggembala domba, kekayaan dan keagungan  yang dimiliki Salomo tidak membuat cinta dan kesetiaan gadis Sulam berpaling dari kekasihnya. Salomo dengan enam puluh permaisurinya serta delapan puluh selirnya memuji kecantikan gadis Sulam. Putri-putri istananya juga memuji gadis Sulam, dengan mengatakan, ”Siapakah dia yang muncul laksana fajar merekah, indah bagaikan bulan purnama, bercahaya bagaikan surya (Kid.6:4-10).

Kidung Agung berisi latar belakang penting untuk memahami bahasa cinta dan peribahasa. Kebanyakan para sarjana setuju bahwa Kidung Agung adalah ungkapan lirik cinta antara laki-laki dan perempuan. Agar fokus pada dimensi sastra puisi, pembahasan tentang cinta  ada tiga hal yang saling terkait :[19]

  1. Hubungan antara bahasa cinta yang digunakan oleh Amsal dan Kidung Agung
  2. Gema cinta perjanjian dan peribahasa
  3. Bahasa cinta untuk memahami otoritas dipersonifikasikan kebijaksanaan

Seperti yang dituliskan oleh Ariel Bloch dan Chana Bloch dalam makalah Dr. Anwar Tjen, mereka mengatakan Kidung Agung adalah syair tentang kesadaran seksual seorang gadis muda belia dan kekasihnya yang bersama-sama menemukan nikmatnya cinta.

Sedangkan Matthew Henry mengatakan ini adalah lagu Epithalamium atau pernikahan dialami dengan ekspressi cinta antara mempelai pria dan mempelaiNya, yang diterapkan dan mengillustrasikan kasih sayang timbal balik yang melewati antara Allah dan sisa-sisa umat manusia: [20]

  1. Lagu ini mungkin mudah diambil dalam pengertian rohani dengan gereja Yahudi. Allah bertunangan dengan orang Israel kepada dirinya sendiri, Ia masuk dalam perjanjian dengan mereka, dan itu adalah perjanjian pernikahan. Dia telah memberikan bukti kasih-Nya yang berlimpah kepada mereka, dan yang dibutuhkan dari mereka adalah mereka harus mengasihi Dia dengan segenap hati dan jiwa mereka. Penyembahan berhala itu disebut dengan perzinahan rohani, untuk mencegahnya maka lagu ini ditulis.
  2. Ini mungkin lebih mudah diambil dalam arti rohani dengan gereja Kristen karena Condes Centions dan komunikasi dari Kasih Ilahi tampak lebih kaya dan bebas di bawah Injil daripada yang mereka lakukan berdasarkan hukum dan persekutuan, antara langit dan bumi lebih akrab. Allah kadang-kadang berbicara tentang dirinya sebagai suami dan   Yahudi (Yes. 54:5; Hosea 2:16,19) dan bersukacita didalamnya sebagai mempelai (Yesaya 62:4, 5). Tetapi yang lebih sering adalah Kristus sebagai mempelai laki-laki direpresentasikan sebagai mempelai gerejanya (Mat. 25:1, Rom.7:4, 2 Kor. 11:2, Efesus 5:32) dan gereja sebagai mempelai perempuan istri anak domba (Wahyu 19:7, 21:2, 9).

Banyak gambaran dalam Alkitab yang melukiskan persekutuan yang  sangat indah itu. Masing-masing gambaran menyatakan satu sifat khas persekutuan itu. Kristus adalah Kepala dan kita adalah tubuh –persektuan yang hidup. Kristus adalah alas dan kita adalah bangunan – persekutuan yang kekal. Kristus adalah Pokok anggur dan kita cabang-cabangnya – persekutuan yang  menghasilkan buah. Kristus adalah Anak sulung dan kita adalah saudara-saudaraNya – hubungan ahli waris. Tetapi hubungan yang termulia dan tertinggi artinya, hanyalah dapat dinyatakan dengan lambang pernikahan manusia. Kristus adalah pengantin laki-laki dan kita pengantin perempuan, karena hubungan yang ideal yang mungkin terjadi antara kita dengan   Dia ialah hubungan kasih.

Dalam makalah Dr.Anwar Tjen,  Chaim Rabin juga menyimpulkan bahwa kemungkinan penyair di balik Kidung Agung sering menyaksikan atau mengalami sendiri perpisahan oleh perjalanan panjang dalam ekspedisi dagang. Dengan demikian syair yang ditulisnya mengungkapkan perasaan nelangsa pemudi yang ditinggal kekasih atau suami. Namun, segera digarisbawahinya, mengingat suasana intelektual di Israel Kuno lebih mungkin Kidung tersebut dimaksudkan sebagai karya religius, atau sastra hikmat. Dengan kata lain, Kidung Agung dimaksudkan sebagai alegori mengenai kerinduan umat Israel ataupun jiwa manusia akan Allah (bnd. Mzm. 42:2-4).

Origenes (240M), orang Kristen dulunya mulai membaca Kidung Agung dengan mata yang penuh pujian kepada Allah dan melihat suatu pernikahan religius antara Allah dan setiap jiwa-jiwa. Ikatan pernikahan yang diikat dengan janji dan keindahan, ikatan itu tidak tergambarkan nikmatnya. [21]

Hal ini yang belum benar-benar diketahui oleh orang Kristen sehingga jarang bahkan nyaris tidak pernah membaca Kitab Kidung Agung sebagai nats renungan. Padahal sebenarnya dari Kitab ini kita dapat mengambil banyak pengajaran rohani yang dapat kita terapkan dalam kehidupan masing-masing.

Contohnya : Kidung Agung 5:2

” Aku tidur, tetapi hatiku bangun,

Dengarlah, kekasihku mengetuk.

Bukalah pintu, dinda, manisku,

merpatiku, idam-idamanku,

karena kepalaku penuh embun,

dan rambutku penuh tetesan embun malam”

Kidung Agung 2:14:

” Merpatiku dicelah-celah batu,

dipersembunyian lereng-lereng gunung,

perlihatkanlah wajahmu,

perdengarkanlah suaramu!

Sebab merdu suaramu

dan elok wajahmu”

Ada beberapa pengajaran rohani yang bisa kita lihat dari kedua ayat ini : [22]

  1. Perhatikanlah perangai pengantin perempuan sebagaimana dikehendaki oleh pengantin laki-laki. Ia disebut ”merpatiku”, suatu perumpamaan yang mengandung arti lembut, halus, indah dan suci (Lih. Kid.5:2 dan 6:9). Walaupun umat Kristus dari dirinya sendiri tidak layak karena cacat dosa, namun mereka itu dijadikan indah didalam Dia. Karena terselubung dengan kebenaran dan kesempurnaan Kristus, maka kita diterima ”didalam kekasihnya”. Disucikan oleh kasih Allah yang dicurahkan Roh Kudus ke dalam hatinya, merekapun menjadi ”kudus dan tak bercacat dihadapanNya” (Ef.1:4).
  2. Perhatikan kesentosaan sang pengantin perempuan. Merpati itu ada ”di celah-celah batu”.  Memang ada semacam burung merpati yang suka diam dalam celah-celah batu karang; disitu burung-burung itu diam dengan sentosa, tidak kuatir akan besarnya angin tofan, angin tofan tidak dapat menggoncangkan batu karang! Jika ditafsirkan dalam rangka ayat-ayat lainnya, maka ”batu” itu berarti Kristus sendiri. Ia adalah ”Batu Zaman” yang dipecahkan karena kita. Dan kita terlindung di dalam Dia, terlindung di dalam Kristus yang telah mati supaya kita dapat menjadi milikNya.
  3. Perhatikan kedudukan dan hak pengantin perempuan itu. Ia tersembunyi di ”lereng-lereng gunung”. Kata ”lereng-lereng gunung” mempunyai arti naik dan menghadap. Hidup kita tidak hanya  ”tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol.3:3), dan tidak hanya telah diselamatkan di dalam celah-celah Batu Zaman saja, tapi kitapun telah diangkat naik dan diberi hak untuk menghadap (Ef.2:18; Ibr.10:19-22).
  4. Perhatikanlah betapa raja sangat kasih akan pengantin itu. Ia berkata, ”Perlihatkanlah wajahmu, perdengarkanlah suaramu! Sebab merdu suaramu, dan elok wajahmu!” Bila kita membaca bagian ini dan mengerti hal-hal rohani yang dikandungnya dan mendengarkan amanatnya, janganlah itu dianggap perkataan raja Salomo kepada Sulam saja, melainkan Firman yang diucapkan Anak Allah sendiri, dan tersurat, ”Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya…supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat dihadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut…tetapi supaya jemaat kudus dan tak bercela (Ef.5:25, 27).

VII. Tujuan dan Makna

7.1. Tujuan

Menurut Karel Sosipater, tujuan dari kitab ini yang diilhamkan oleh Roh Kudus adalah untuk menyatakan bahwa ”cinta asmara” lelaki dan perempuan adalah ”baik dan berharga”. Hal itu untuk mengembalikan nilai cinta dan seks yang telah tercemar oleh dosa dan perilaku ”penyimpangannya” seperti perzinahan, pelacuran dan pemburit atau homoseks.[23]  Dengan demikian Allah merancang dan menciptakan adanya ”rasa cinta kasih” dan ”pernikahan” adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan manusia, bukan untuk disalahgunakan semaunya. Kidung Agung telah ditafsirkan dengan banyak variasi, mungkin yang terbaik adalah melihat sebagai sejenis puisi erotis yang dikenal dari nyanyian perkawinan suci Mesopotamia dan lagu-lagu cinta Mesir.

Tujuan Kidung Agung dimajukan selangkah lagi oleh E.J.Young, ”Kidung Agung membicarakan kesucian hidup percintaan manusia, dan dengan dimasukkannya kitab itu dalam Kanon, mengingatkan kita kepada cinta kasih Allah.[24]

Kidung Agung merupakan suatu pelajaran, suatu perumpamaan (masyal) luas yang menggambarkan keajaiban dan kekayaan cinta manusia yang merupakan pemberian Kasih Allah. Walaupun bahasanya terang-terang, Kidung Agung memberi keseimbangan antara dua ekstrem, yakni perbuatan seksual yang berkelebihan dan asketisme yang menyangkal kebaikan dan kebenaran cinta jasmani dalam rangka pernikahan yang ditetapkan Allah. Namun makna Kidung Agung tidak terbatas pada hal cinta –kasih insani.

Salah satu ajaran etika Kitab Kidung Agung ialah ”menjunjung kesopanan dalam bercinta”, gadis Sulam tetap menghormati sopan santun budaya dengan tidak mencium kekasihnya di depan umum.[25] ”Akan kubimbing engkau dan kubawa ke rumah ibuku, supaya engkau mengajar mengajariku dalam sikap sopan santun yang benar. Berjalan sambil tangan kirinya ada dibawah kepalaku, tangan kanannya memeluk aku. Dan kembali ia menegor puteri-puteri istana agar tidak membangkitkan gairah cinta yang dibuat, sebab itu bukan cinta sejati yang datang dengan sendirinya (Kid. 8:1-5).

Oleh sebab itu, makna Kidung Agung disambut sebagai penawar terhadap seksuailitas yang tidak wajar dan kemerosotan lembaga perkawina. Kitab Kidung memuji-muji baiknya keberadaan manusia yang diciptakan laki-laki dan perempuan serta menganjurkan kesusilaan dan martabat kasih sayang manusia dan penyataan seksual dalam batas-batas yang ditetapkan Allah untuk hubungan antara seoarang laki-laki dan seorang perempuan (Kejadian 2:23-24; band.  Roma 1:24-32). Sesungguhnya, hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan” (Ibr.13:4) dan ”Siapa mendapat istri, mendapat sesuatu yang baik ” (Amsal 18:22). Dengan demikian haruslah dipahami bahwa kesatuan laki-laki dan perempuan dalam perkawinan dihadapan Allah bukanlah sekedar untuk mencari/menghasilkan keturunan saja (Kej.1:28), namun Kidung Agung menunjukkan bahwa keintiman seksual antara suami dan isteri itu sendiri bertujuan untuk sukacita dan kenikmatan bersama dan untuk pertumbuhan serta kemajuan hubungan itu sendiri (Kid.6:2-3;  7:10-13  bnd. Ams.5:19;  I Kor.7:1-5).

Alkitab tidak memberi tempat untuk hubungan seksual pranikah ataupun di luar pernikahan, entah itu bersifat heteroseksual ataupun homoseksual (Kel.20:14;  Im. 18:22;  20:13; Mat.5:17-28; Rom.1:24-27; I Kor.6:13, 18; Ef.5:3). Peringatan-peringatan dari Alkitab cukup jelas, Allah akan menghukum siapapun yang dursila secara seksual (I Kor.6:9,  18-20; Ibr.13:4b).  Gadis Sulam dan gembala yang mencintainya memperagakan cinta sejati yang menunjukkan kesungguhan dan kesetiaannya melalui kepribadian yang kuat dan gairah yang menyala-nyala. Sikap mereka dalam hal mengasihi satu terhadap yang lain memancarkan kejujuran, kesetiaan, komitmen dan saling menghargai (Kid. 4:12-16, 7:11-14; 8:10-12). Akhirnya Kidung Agung menegaskan kebaikan dan kebenaran cinta jasmani di dalam ikatan perkawinan yang ditetapkan Allah (Kej.1:26-28;  20:20-25; Mat.19:1-12).

Perkawinan yang ditetapkan oleh Allah akan memperoleh sukacita, seperti yang dinyatakan dalam Kidung Agung 2:16, ”Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia”. Itu juga inti sukacita yang diperoleh orang Kristen dalam hubungannya dengan Kristus yang dikasihinya itu, suatu kepastian dikasihi dan mengasihi. Selaku orang yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus, kita juga boleh menggunakan kata-kata itu dengan menerapkannya pada diri sendiri, ”Kekasihku kepunyaanku, dan aku kepunyaan dia”.

Jika pada zaman dulu Kidung Agung sudah berbicara kepada umat Israel, terlebih lagi indahnya kitab itu berbicara pada zaman sekarang kepada umat Kristus, yang telah dianugerahkan kehidupan rohani, tentang hubungannya dengan pengantin yang turun dari sorga, yakni hubungannya tentang mana Rasul Paulus  menulis, ”Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya untuk menguduskan umatNya, sesudah Ia menyucikan dan memandikanNya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat dihadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudusdan tidak tercela ” (Ef.5:25-27). Karena perkawinan adalah peraturan Allah yang suci, maka selayaknyalah perkawinan menjadi lambang persekutuan antara Tuhan Yesus dan pengantinNya, yaitu Gereja, dengan setiap orang Kristen perorangan. Itu sebabnya, Allah sering menggambarkan diriNya adalah suami bagi umatnya.

Sebagai contoh : Hosea 2:18

Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya

dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kebenaran dan keadilan,

dalam kasih setia dan kasih sayang.

7.2. Makna

Kitab Kidung Agung mencerminkan kepedulian dari Allah yang sangat memperhatikan segala segi kehidupan kita, termasuk hal-hal yang bagi sebagian orang tabu atau tidak boleh dibicarakan. Saya pribadi lebih memandang kitab ini mencakup dua makna praktis berdasarkan pesan harafiah,  kitab ini merupakan pujian dan rasa kagum atas misteri kasih  manusiawi, dan secara spritual meruapakan ungkapan kasih Yahweh kepada umatNya yang telah dipenuhi melalui kasih Kristus kepada gerejaNya.

Kitab ini juga memperlihatkan bahwa Salomo adalah pribadi yang sangat lemah dan tidak sanggup mengendalikan diri terhadap segala daya tarik erotis yang merupakan salah satu fokus hidupnya yang terbesar. Tidak mengherankan jika akhirnya I Raja 11:1,3 menjadi rekaman Alkitab yang menunjukkan prestasi dan teladan hidup yang buruk dihadapan Allah dan manusia sepanjang masa.  Dengan 300 istri dan 700 gundik jelas bukan cerminan dari kehidupan cinta yang kudus didepan Allah dan tidak menjadi teladan hidup kesetiaan yang baik bagi kita hari ini. Maka Kidung Agung memberikan pengajaran khususnya bagi kaum muda dalam gereja zaman ini untuk menjunjung  kesopanan dalam bercinta jangan  sampai terjerumus ke dalam kebebasan seks atau melakukan seks di luar nikah/perkawinan. Karena seks diberikan Allah kepada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang telah dipersatukan dalam perkawinan.   

VIII. Kesimpulan dan Saran 

8.1. Kesimpulan

Semua kitab-kitab adalah kudus, tetapi Kidung Agung adalah yang mahakudus. Syair-syairnya yang erotis hendaknya dimaknai tidak hanya untuk menggambarkan hubungan cinta asmara antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, tetapi cinta kasih Allah kepada umatNya, yang sangat kuat seperti maut (Kid.8:6).

8.2. Saran

1. Gereja dan para pelayan hendaknya tidak lagi merasa tabu untuk mengangkat isi Kitab Kidung Agung untuk dibacakan atau dibahas dalam pertemuan-pertemuan resmi seperti dalam kebaktian Minggu maupun dalam Penelahan Alkitab (PA),  karena isi dan makna  yang disampaikan oleh Kitab Kidung Agung bukan hanya sekedar mengenai cinta kasih antara seorang laki-laki dan dan seorang perempuan, tetapi menggambarkan kekuatan dan kesetiaan cinta kasih Allah kepada umatNya.

2. Gereja dan para pelayan perlu menyampaikan isi Kitab Kidung Agung sebagai bahan renungan atau untuk dibahas dalam Penelahan Alkitab khususnya kepada para pemuda-pemudi Gereja, agar mereka dapat menjaga kesuciannya dengan menjunjung kesopanan dalam bercinta.


[1]. Matthew Henry, Commentary on The Whole Bible, Zondervan Publishing House, Grand Rapids,

Michigan, 1960, hlm. 811

[2].  D.A. Hubbard, “Kidung Agung” dalam  J.D. Douglas (Peny.), Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jilid 1, A-L,

Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta, 1992, hlm. 559

[3] . Lih. David W. Cotter (ed.),  Berit Olam: Studies in Hebrew Narrative and Poetry,  The Liturgical Press,

Minnesota, 2001, hlm. 7-16

[4].  D.A. Hubbard, “Kidung Agung” dalam J.D. Douglas (Peny.),  Op. Cit, hlm. 560

[5]. J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab 2; Ayub-Maleakhi, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta,

1993, hlm. 147

[6]. W. S. Lasor,  D.A. Hubbard & F.W. Bush,  Pengantar  Perjanjian Lama 2,  BPK Gunung Mulia, Jakarta,

1996, hlm. 169

[7]. Karel Sosipater, Etika Perjanjian Lama, Suara Harapan Bangsa, Jakarta, 2010, hlm. 410

[8].  David W Cotter (ed.),  Op.Cit, hlm. 7-16

[9].  W. S. Lasor- D.A. Hubbard & F.W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 2, BPK Gunung Mulia, Jakarta,

1996,  hlm. 167

[10]. Andrew E. Hill & John H. Walton,  Survei Perjanjian Lama,  Gandum Mas, Malang, 2000, hlm. 490

[11]. Lih. Marie Claire Barth – Frommel,  Hati Allah Bagaikan Hati Seorang Ibu, BPK Gunung Mulia, Jakarta,

2003, hlm. 27-29

[12]. Ibid,  hlm. 32-33

[13]. J. Sidlow Baxter, Oo.Cit,  hlm. 141

[14]. W. S.Lasor- D.A. Hubbard & F.W. Bush,  Op.Cit, hlm. 173

[15]. Ibid,  hlm. 174

[16]. J. Sidlow Baxter, Op. Cit, hlm. 141

[17].  Ibid,  hlm. 141-142

[18]. W.S. Lasor-D.A.Hubbard & F.W.Bush, Op.Cit, hlm. 174

[19]. Claudia V. Camp,  Wisdom and the Feminine in The Book of Proverbs,  The Almond Press, England, 1951

hlm. 98

[20]. Matthew Henry,  Op. Cit, hlm. 811

[21]. David  W. Cotter (ed.), Op.Cit, hlm. 7-16

[22]. J. Sidlow Baxter,  Op. cit, hlm. 159-160

[23]. Karel Sosipater, Op.Cit,  hlm. 410

[24]. D.A. Hubbard, “Kidung Agung” dalam J.D.Douglas (Peny.), Op.Cit, hlm. 561

[25] . Karel Sosipater, Op.Cit,  hlm. 415

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s