Ezer Kenegdo

Nas: I Samuel 16:1-13 (Tuhan melihat hati manusia dan bukan parasnya)

Leave a comment

I .Pendahuluan

Buku I Samuel sangat menarik, karena isinya bukan hanya menceritakan tentang sejarah bangsa Israel namun juga menceritakan kehidupan tiga orang tokoh yang penting, yaitu Samuel hakim yang terakhir, Saul raja yang pertama dan Daud raja yang besar. Kitab Samuel ini dapat dibagi dalam tiga bagian utama: Pasal 1-7:  menampilkan tentang Samuel, Pasal 8-15: menampilkan tentang Saul, Pasal 16-31: menampilkan tentang Daud.

Buku I Samuel disebut sebagai Kitab Peralihan, yaitu peralihan dari teokrasi menjadi monarki. Allah sendiri yang menjadi raja yang tidak kelihatan bagi bangsa Israel (teokrasi). Sedangkan Allah hanya mengangkat hakim ketika bangsa Israel mengalami kesukaran dan penderitaan. Namun suatu ketika, Samuel sebagai hakim terakhir harus berunding dengan Allah karena bangsa Israel mendesak supaya seorang raja diberikan kepada mereka, sama seperti bangsa-bangsa lain. Akan tetapi ada yang berpandangan bahwa menginginkan adanya seorang raja adalah sikap melawan kepercayaan Israel kuno yang mengakui Allah sebagai raja (Kel.15:18; Ul. 33:5). Akhirnya, Allah menyetujui dan membiarkan bangsa Israel memiliki seorang raja (monarki). Ia tahu bahwa hal itu akan membawa perubahan besar bagi bangsa Israel dan tidak semua perubahan itu baik. Setelah memilih raja, Allah mengingatkan Israel dan raja agar memelihara perjanjian-Nya dengan tetap setia dan taat kepada Tuhan (Kej. 17:7-9; Kel. 24). Namun, Saul tidak mengikuti apa yang diperintahkan  Tuhan ( I Sam.13:13-14) dan Saul  tidak ingin digantikan oleh Daud, raja baru yang dipilih oleh Allah (16:1-13).

II. Penjelasan Nas

Samuel sebagai hakim Israel dan dialah yang mengurapi Saul sebagai raja yang pertama di Israel, yang pada mulanya Saul adalah seorang yang baik dan sangat rendah hati (baca I Sam.9:21). Namun akhirnya menjadi raja yang tidak mengikuti perintah Tuhan, sehingga ia telah ditolak oleh Allah sebagai raja atas Israel.   Hal ini membuat Samuel merasa sedih dan berdukacita (ay.1 Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul ? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel). Untuk mengatasi rasa sedih Samuel, Allah juga telah memberikan tugas baru yaitu mengisi “tabung tanduk” nya dengan minyak  untuk mengurapi raja yang baru  dan pergi kepada Isai orang Betlehem dan memilih salah satu anak isai untuk menjadi raja. Tentu saja Samuel takut dan kuatir melakukan tugasnya, Samuel kuatir kalau Saul mengetahui rencana kepergiannya dan akan menghalang-halangi, bahkan membunuhnya,  “Bagaimana mungkin aku pergi? Jika saul mendengarnya, ia akan membunuh aku” (ay.2). Namun Allah tetap memerintahkan Samuel agar melakukan tugasnya yang baru, sebab banyak cara yang dilakukan Tuhan untuk mewujudkan kehendakNya.

Akhirnya Samuel melakukan sesuai dengan yang diperintahkanNya, ia pun pergi ke Bet-Lehem, kedatangannya membuat para tua-tua di kota datang mendapatkannya dengan gemetar dan berkata, “Adakah kedatanganmu ini membawa selamat? (ay.4). Mereka takut untuk mendengar berita apa yang akan disampaikan oleh Samuel, mereka sudah memperkirakan bahwa Samuel akan menyampaikan hukuman kepada penduduk Bet-Lehem, karena kedatangan Samuel yang begitu mendadak dan Samuel harus menempuh perjalanan yang panjang untuk datang ke Bet-lehem. Ternyata,  Samuel membawa kedamaian dan kebaikan, dan ia juga  membawa  korban persembahan kepada Tuhan. Samuel melakukan sesuai dengan yang diperintahkan Tuhan, ia mengundang Isai dan anak-anaknya ke upacara pengorbanan itu dan menguduskan mereka (ay. 5).

Ketika mereka masuk, Samuel pun melihat Eliab yang parasnya sangat berwibawa dan perawakannya yang tinggi.  Samuel berpikir, “Sungguh di hadapan Tuhan sekarang berdiri yang diurapiNya”(ay.6). Namun Allah mengingatkan Samuel, agar jangan memandang paras dan perawakannya yang tinggi. Samuel pun mendengar perkataan Tuhan, Samuel tidak melakukan sesuai dengan kehendak hati dan pikirannya, namun sesuai perintah Tuhan. Sebab, bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (ay. 7). Lalu Isai menyuruh anaknya Abinadab, menyuruh Syama dan ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, namun semua berkata, “Orang ini pun tidak dipilih Tuhan”(ay. 10). Daud adalah putra bungsu dari 8 anak laki-laki Isa (I Sam. 17:12).  Ia mempunyai 2 Saudara perempuan. (Bnd.I Tawarikh 2:13-15, disebutkan ada 7 anak laki-laki Isai dan 2 anak perempuan, tetapi disini tidak disebutkan anak laki-laki yang bernama Syama).

Tujuh putra Isai sudah lewat di depan Samuel tetapi Samuel berkata kepada Isai, “semuanya tidak dipilih Tuhan, inikah anakmu semuanya ? Jawab Isai, “masih tingga yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba”. Kata Samuel kepada Isai,”suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang kemari”. Kemudian disuruhnyalah orang menjemput putra bungsunya itu. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok (ay. 12). Setelah Daud sampai di rumah bapanya Isai (tempat mereka berkumpul),  lalu Tuhan berfirman, “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia” Lalu Samuel pun mengurapi Daud menjadi raja Israel disaksikan keluarga terdekat. Maka Daud pun dipenuhi oleh Roh Tuhan, sehingga ia mempunyai kekuatan dan kebijaksanaan dalam melakukan tugasnya sebagai raja di Israel.

III. Refleksi

  1. Allah melihat hati manusia, bukan fisik atau Penampilan manusia. Itu sebabnya Allah memilih Daud yang masih muda dan tidak memiliki penampilan seperti calon raja. Sedangkan manusia cendrung menilai dari apa yang kelihatan oleh mata, baik itu fisik, posisi/jabatan, harta kekayaan, hubungan social dan lainnya. Itu sebabnya, manusia cendrung juga untuk  melakukan  sesuatu agar bisa diterima oleh lingkungannya. Bahkan sebagian orang rela untuk menghalalkan segala cara agar mereka menjadi orang yang bisa dilihat/dipandang, diakui keberadaannya oleh lingkungannya. Contoh: Saat ini munculnya kelompok sosialita yang telah mengalami pergeseran nilai karena perkembangan zaman, dulu kelompok sosialita dikenal karena kekayaannya dan mau membantu orang lain (terlibat dalam kegiatan social). Namun sekarang sudah lebih banyak dimanfaatkan hanya untuk nongkrong (rumpi) atau sekedar arisan saja sambil menunjukkan barang yang branded dan limited sebagai bukti dia layak masuk kelompok sosialita , sehingga tidak sedikit orang rela menembus, menghalalkan segala cara agar dianggap sebagai kelompok sosialita.
  2. Dipilih menjadi alat-Nya adalah anugrah yang indah. Kita memang tidak tahu kristeria secara  absolut  apakah  yang   Allah pakai untuk menentukan pilihan. Tetapi itulah kedaulatan Allah, yang  penting  adalah kesediaan kita untuk dipakai Allah.  Sebab Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak memandang  bulu (Roma 2:11).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s