Ezer Kenegdo


Leave a comment

Khotbah Minggu 13 April 2014 : Mateus 21:1-11 di GKPI Anugerah Green Garden

Thema: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan

Kedatangan Yesus ke suatu tempat selalu menarik perhatian banyak orang. Hal ini terjadi karena Yesus sudah banyak melakukan mujizat seperti: menyembuhkan orang sakit, orang buta bahkan membangkitkan orang mati. Maka jika dalam nas yang kita baca saat ini menunjukkan bahwa Yesus dielu-elukan oleh banyak orang sesungguhnya, itu adalah lanjutan dari perjalanan Yesus yang senantiasa ditunggu banyak orang. Apalagi ketika Yesus membangkitkan Lazarus disaksikan oleh banyak orang, sehingga dapat dimengerti ketika masyarakat selalu berharap untuk dapat bertemu secara langsung dengan Yesus agar dapat disembuhkan atau paling tidak dapat menyaksikan mujizat yang dilakukan oleh Yesus.

Jika kita hendak melakukan kegiatan di gereja apakah itu pesta pembangunan gereja, perayaan Natal atau Paskah, maka untuk mengerahkan massa yang banyak selalu dibentuk tim seksi pengerahan massa. Namun dalam nas ini, tidak ada seksi pengerahan massa yang menggerakkan orang banyak yang sangat besar jumlahnya itu. Semuanya berlangsung dengan spontan. Dari segala penjuru orang datang, berkumpul menghamparkan baju, melambai-lambaikan daun palma, berteriak hosanna dengan spontan, dengan tulus. Sebab yang masuk ke Yerusalem itu adalah Sang Mesias yang telah begitu lama dinanti-nanti.

Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus..

Sesungguhnya apa yang luar biasa dari peristiwa yang bisa kita lihat melalui nas ini, yang luar biasa ialah sikap yang ditunjukkan oleh Yesus di mana Ia sendiri mempersiapkan diri-Nya untuk disambut dan dielu-elukan oleh orang banyak. Hal ini menarik untuk dilihat karena biasanya Yesus justru sering menghindar dari keramaian bersama murid-Nya. Menurut Mat.2:5, “Katakanlah kepada putri Sion (=Yerusalem beserta penghuninya): Lihat, Rajamu datang kepadamu. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai betina dan seekor keledai beban yang muda”.

Yesus masuk Yerusalem disambut sebagai raja, tetapi Ia naik keledai betina yang masih muda. Ternyata mengendarai keledai lebih sukar daripada tunggangan lain. Karena keledai biasanya bukan hewan penurut dan tidak berjalan cepat. Itu sebabnya, keledai sering dipakai untuk mengangkut beban sedangkan pemilik berjalan di depan mengarahkannya dan tidak menaikinya. Hanya orang yang “pintar” yang bisa mengendarainya tanpa ada yang menggiringnya di depan. Kini Yesus memasuki Yerusalem di atas keledai, sebagai orang yang tahu mengarahkan tunggangan yang sukar ini. Maka, jelas yang hendak dikatakan; Ia orang yang penuh kearifan. Tak ada kegagahan, tak ada keperkasaan, tak ada kecemerlangan. Yang ada ialah kesederhanaan. Lebih tepat kerendahan dan kehinaan.

Sama sekali tidak meyakinkan, ibarat seorang pengusaha mau membicarakan transaksi bermilyar-milyar rupiah, tetapi naik becak.  Namun di sini lah letak keluarbiasaanNya, kedatangan Yesus ke Yerusalem berjalan lancar dan tidak seorang pun dapat menghalangi/menghambat termasuk kaum Farisi yang sebenarnya sudah sangat ingin menangkap Yesus.

Yang terjadi justru Yesus dielu-elukan oleh orang banyak yang menanti kedatangan-Nya. Ada kemuliaan dan keagungan. Ayat 8 mengatakan, “ Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan”. Ada yang berjalan di depan Yesus, ada yang berjalan di belakang Yesus, semuanya berseru:”Hosana bagi Anak Daud! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Hosana di tempat yang mahatinggi.

Seruan itu bukanlah seruan biasa sebagai ucapan selamat datang, atau sorak sorai biasa pada saat keramaian atau kemenangan. Tetapi Hosana disini berarti “selamatkan kami sekarang!” ini seruan minta tolong dari orang-orang yang menderita kepada raja atau kepada Allah. Seperti seruan umat yang terdapat dalam Mazmur 118: 25: “Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan!” Kedatangan Yesus ke Yerusalem, membuat gempar seluruh kota itu, dan mereka bertanya, ”siapakah orang ini”? Hal ini menunjukkan bentuk keheranan, ketakjuban orang berada di Yerusalem dan belum pernah melihat Yesus, dan mereka menyebutNya Yesus adalah orang Nazaret.

Sesungguhnya di tengah sambutan dari masyarakat yang spektakuler dan luar biasa ini, hanya Yesus Sang Raja yang mengetahui akan arti kehadiranNya ditengah massa yang mengelukan diri-Nya, bahkan hanya Dia dan Bapa yang mengetahui untuk apa Dia datang ke dunia ini. Walaupun sebenarnya Yesus sudah pernah mengatakanya kepada murid-muridNya, “bahwa Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olok, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan”.

Masyarakat/massa yang mengelu-elukan Yesus justru dalam semangat dan harapan yang salah/keliru. Mereka berharap bahwa Yesus akan menjadi Raja mereka di Bait Allah dan sekaligus memerintah sebagaimana layaknya raja yang ada di dunia ini, sehingga mereka hidup sejahtera serta tidak tergantung kepada kekuasaan bangsa lain. Dengan kata lain bahwa mereka mengartikan kehadiran Sang Mesias menurut pikiran dan keinginan mereka sendiri. Teriakan harapan yang demikian ini sangat jauh berbeda, bahkan melenceng jauh dari arti dan maksud kedatangan Yesus yang sebenarnya, mereka tidak mengerti bahwa apa yang sebenarnya Tuhan Yesus kerjakan adalah pembebasan dari kuasa dosa.

Apakah yang menjadi renungan kita melalui teks ini ?

Pertama: Kedatangan Yesus bukanlah kedatangan yang tanpa perencanaan. Dalam kemahatahuaan-Nya, Yesus telah mempersiapkan kedatangan-Nya jauh sebelumnya. Namun yang menarik ialah persiapan Yesus bukan dengan sebuah kemegahan atau kemeriahan. Walaupun Yesus adalah Sang Raja, namun Ia memilih datang dalam kesederhanaan.

Hal ini yang menyebabkan Filsuf terkenal “Nietzsche”, berang terhadap kekristenan. Ia mengatakan bahwa kekristenan itu membahayakan peradaban kemanusiaan. Kekristenan dengan ajaran kasih, pengampunan, kerendahan hati, penyangkalan diri telah menciptakan manusia-manusia yang lembek yang bermental budak dan berhati bubur. Kalau diapa-apakan ya “nrimo” terus, monggo terus, pasrah. Itu sebabnya Nietzsche berkata, “ini berbahaya, karena dunia ini membutuhkan manusia-manusia super, kuat, gagah, berani, kalau ada musuh dibabat saja”.

Dunia macam apa yang dihasilkan kalau prinsip Nietzsche ini berlaku ? yang kuat itu benar/bertahan, terjadilah membunuh atau dibunuh, supaya saya hidup dan yang lain mesti mati.

Raja naik keledai menunjukkan sebuah kesederhanaan, dan bukan secara kebetulan Yesus memilih cara ini, namun tindakan ini mempunyai makna yang lebih dalam, Yesus ingin menunjukkan kejayaan dan kelemahlembutan. Sosok Yesus yang sederhana mampu menembus batas perbedaan sehingga tidak ada lagi perbedaan antara orang kaya dan miskin, sebab Yesus datang dengan kesederhanaaNya. Yesus datang sebagai hamba, oleh karena itu secara manusia Dia tidak begitu diperhitungkan, bahkan terkesan dicemoohkan tapi begitulah cara Yesus datang kedunia untuk bisa memenuhi panggilanNya.

Kedua: Patuh kepada Bapa. Yesus hanya melakukan kehendak Bapa untuk menjalankan misiNya. Ia tahu musuh-musuhnya sudah menanti untuk membunuhNya. Tetapi Ia tidak gentar, Ia tidak menghindar. Kepatuhannya terlihat sampai Dia disalibkan. Demikian halnya kepatuhan murid-muridNya ketika Yesus menyuruh 2 muridNya untuk pergi kekampung yang ada di depan dan mengambil seekor keledai betina. Tanpa membantah kedua murid-Nya langsung pergi melakukan yang diperintahkan Yesus. Dengan pesan, mereka tidak boleh mengambil secara paksa atau secara diam-diam tanpa sepengetahuan atau izin dari pemiliknya, karena Yesus menjamin bahwa mereka akan memperolehnya, dengan mengatakan jika ada yang menegur katakana, ”Tuhan memerlukanNya,Ia akan segera mengembalikannya”.

Dan terlihat juga kepatuhan pemilik keledai yang memperbolehkan keledainya dipakai oleh Tuhan Yesus. Lalu bagaimana dengan kepatuhan kita ? Kepatuhan kita untuk melakukan kehendak-Nya akan mendatangkan berkat bagi kita. Sesungguhnya Tuhan juga tidak menuntut kita melakukan hal-hal yang luar biasa untuk dapat menjadi bahagian keselamatan Allah, ada banyak hal-hal sederhana yang dapat dan mampu kita lakukan untuk Tuhan yang memiliki dampak yang luar biasa, orang banyak itu hanya “menghamparkan pakaiannya” dan “memotong ranting-ranting pohon”. Dalam hal ini, yang dapat kita katakana bahwa itulah yang ada pada mereka saat itu, kalaupun hanya pakaian dan ranting pohon yang ada itulah yang mereka lakukan, yang pasti jangan pernah untuk menunda maupun menimbang-nimbang untuk berbuat kepada Allah. Lakukanlah apa yang dapat kamu lakukan sekarang untuk Tuhan.

Khususnya di tahun ini kita akan merayakan 50 tahun GKPI, apa yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kualitas penyembahan dan persembahan? Tentu saja memerlukan kepatuhan melakukan apa yang dikehendaki-Nya, dan biarlah kita melakukannya bukan karena didorong sikap yang emosional namun karena iman. Ketika kita memberikan waktu, ide-pikiran, hati-tenaga bahkan materi untuk Tuhan melalui gereja, karena kita mempercayai bahwa “Tuhan memerlukannya, dan Ia akan segera mengembalikannya” dengan berkat-berkat yang lain.

Ketiga: Thema: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Murid-murid Yesus diberkati karena dengan tulus melakukan yang diperintahkan Yesus (mereka menjadi saksi-Nya), pemilik keledai juga diberkati karena telah memberi keledainya dengan iman, demikian juga kita akan semakin diberkati jika kita melakukan kehendak-Nya di dalam nama Tuhan, bukan untuk sebuah nama baik, ketenaran dan pujian. Maka untuk segala kebaikan-Nya (penebusan-Nya) sudah selayaknyalah kita mengatakan, “Hosanna bagi Allah di tempat yang Maha Tinggi”. Amin.

 


Leave a comment

Kamis, 29 Mei 2014: Kenaikan Tuhan Yesus

Evangelium : Efesus 1:15-23
Thema : Kristus yang bangkit adalah Kepala dari segala sesuatu
Surat ini merangkum banyak ajaran penting yang terdapat dalam surat-surat Paulus, khususnya dengan Surat Kolose memiliki persamaan yang amat dekat yaitu ketika Tikhikus disebutkan sebagai pembawa surat itu yang harus memberitahukan para penerimanya tentang keadaan Paulus dan menghibur hati mereka (6:21-22; bnd. Kol.4:7-8). Surat ini diawali dengan melukiskan bagaimana Allah telah membangkitkan Kristus, yang sekarang memerintah bersama Allah di surga. Surat ini ditujukan kepada orang-orang kudus yang juga orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Dari Paulus, Rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus ( toi/j a`gi,oij toi/j ou=sin Îevn VEfe,sw|Ð kai. pistoi/j evn Cristw/| VIhsou/ ). Selanjutnya, surat ini memperlihatkan bagaimana Kristus telah mempersatukan orang bukan Yahudi dan orang Yahudi dengan merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan yang memisahkan mereka (2:14). Mereka yang beriman kepada Yesus telah dipilih oleh Roh Allah untuk menjadi bagian dari satu tubuh, yaitu jemaat. Tubuh ini memiliki “Satu Tuhan, satu iman, dan satu babtisan” (4:5). Dengan demikian para pembaca diharapkan untuk mencapai kesatuan dalam iman, mencapai kedewasaan penuh, mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehinga mereka tak lagi seperti anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia (4:13-14).
Teks Khotbah ini diberi judul “Doa untuk pengertian tentang Kemuliaan Kristus”. Teks ini menjelaskan secara umum bahwa keunggulan Kristus atas semua kuasa kosmik (semua yang ada =berhubungan dengan jagat raya). Pasal 1:15-23 ini merupakan ucapan syukur karena iman para pembaca yang sedang beralih kepada “kedewasaan penuh” dan doa agar mereka mengalami hikmat kuasa Allah. Memang benar mereka memiliki iman di dalam Yesus Kritus dan kasih terhadap semua orang kudus (1:15), tetapi perlu juga di perdalam. Sehingga dengan penguatan itu ajaran-ajaran sesat yang mungkin muncul, apalagi dengan berkembangnya dewi Artemis di Efesus tidak akan begitu berbahaya bagi para pembacanya.
II.Keterangan Nas
Ayat 15-16: Aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus….aku pun tidak berhenti mengucap syukur …dalam doaku. Ayat ini memperlihatkan adanya hubungan yang akrab antara penulis Efesus dengan para pembacanya, walaupun para pembacanya tidak mengenal penulis secara pribadi, tetapi mereka telah mendengar pelayanan kasih karunia yang telah dianugerahkan kepadanya (baca: Ef.3:2), karena Paulus pernah tinggal di Efesus selama tiga tahun (Kis. 19:8, 10; 20:31).
Ayat 17-20: dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus..Dalam doa, Paulus meminta dan ia memiliki pengharapan yang besar kepada pembacanya, agar mereka beroleh pengenalan yang benar tentang Tuhan, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (ay. 17). Karena Paulus pernah tinggal di Efesus selama tiga tahun (Kisah Para Rasul 19:8,10; 20:31) tentunya sangat memahami persoalan yang menyangkut iman Kristen di sana. Efesus adalah kota yang banyak orang Kristennya, tetapi sekaligus kota yang menyuguhi sarana untuk penyembahan berhala dan praktek-praktek ilmu sihir. Kuasa kegelapan telah melanda kota itu. Kuil Dewi Diana atau lebih dikenal dengan kuil Artemis terletak di kota Efesus. Oleh sebab itu mereka harus mengenal Allah dengan benar, karena menurut Paulus mengenal Allah dengan benar merupakan fondasi Kekristenan yang kokoh dan juga merupakan solusi bagi semua persoalan hidup manusia.
Paulus juga meminta, supaya Ia menjadikan mata hatimu terang” pefwtisme,nouj tou.j ovfqalmou.j th/j kardi,aj (ay.18). Mata hati yang terang membuat kita mengetahui dan mengerti akan pengharapan yg terkandung dalam panggilanNya. Apa tujuan Bapa memanggil kita ? Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya . Mata hati yang terang juga menjadikan kita untuk mengetahui tentang “kuasaNya yang hebat”. Kuasa dan kekuatan Allah yang dikerjakan di dalam Kristus, yaitu membangkitkan Kristus dari kematian (ay. 20). Bukti Yesus telah bangkit kubur kosong, kain kafan yang terletak di tanah, kain peluh yang sudah tergulung”. Alkitab hendak mengatakan, Yesus benar-benar bangkit. Kuasa-Nya juga telah mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga (ay.20). Kenaikan Yesus ke sorga dan duduk di sebelah kanan-Nya adalah sebuah bukti bahwa Yesus hidup dan melebihi kemampuan serta kuasa yang ada di bumi ini. Kebangkitan Yesus dari kematian dan kenaikan-Nya ke sorga membawa kemenangan bagi orang percaya kepada-Nya dan kekalahan bagi penguasa dunia.
Ayat 21-23: Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan… Kekuasaan pemerintah, kerajaan dan segala kekuasaan yang ada di dunia ini, semuanya tidak lebih tinggi dari Yesus. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berada di bawah kuasa Allah dan di letakkan di bawah kaki-Nya (ay.22). Memberikan Yesus sebagai Kepala Jemaat, sebagai Kepala Jemaat tentu saja Ia berkuasa atas segenap umat-Nya (tubuh-Nya), sehingga jemaat menjadi sempurna karena dipenuhi oleh Kristus (ay.23).
III.Aplikasi
Happy Ascension Day, hari ini kita berkumpul untuk memperingati kenaikan Yesus Kristus ke surga yang tidak bisa dilepas/pisahkan dari peristiwa kebangkitan Yesus. Tetapi mengapa setiap merayakan kenaikan Yesus ke surga perayaannya tidak semeriah hari Natal atau Paskah? Padahal seharusnya kita harus lebih bersukacita karena kenaikan-Nya ke surga adalah untuk menyediakan tempat bagi kehidupan orang percaya. Kenaikan-Nya ke surga bukan berarti Ia meninggalkan kita begitu saja di dunia ini, Karena Yesus berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu, dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
Kenaikan Yesus ke sorga menandakan munculnya era baru, yaitu era Gereja yang pada hari Pentakosta dikaruniai Roh Kudus yang diutus oleh Kristus untuk meneruskan misi-Nya. Di mana Yesus menjadi Kepala Jemaat, kekuasaan dan kemulian-Nya terlihat lewat karya nyata-Nya di dunia ini yaitu untuk keselamatan manusia, dan Yesus telah memberikan tugas kepada kita agar meneruskan misi-Nya untuk bersaksi dan menyampaikan berita sukacita (keselamatan) bagi semua bangsa. Melalui pengenalan yang benar tentang Tuhan dan dengan mata hati yang terang akan memampukan kita untuk melakukan panggilan-Nya (menjadi saksi-Nya).

Lagu yang berjudul, “Open the Eyes of My Heart” adalah sebuah lagu rohani yang sudah sangat terkenal. Ada banyak penyanyi yang sudah membawakan lagu ini diantaranya Hillsong United dan Michael W Smith. Lagu ini ditulis oleh Paul Baloche yang terinspirasi dari doa rasul Paulus buat jemaat Efesus agar mata hati mereka dibuat Tuhan menjadi terang. “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus..” (Efesus 1:8). “Sesungguhnya ini kerinduan hati kita semua..” kata Paul pada suatu kali. “Saya sudah lama mengikut Tuhan tapi itu tidak pernah cukup. Saya ingin mengenalNya. saya ingin melihat Tuhan. Saya ingin bangun setiap pagi dengan merasakan kehadiranNya dalam hidup saya. Saya ingin melihat KerajaanNya hadir di dunia, hingga saya bisa menjadi bagian dari KerajaanNya dan bisa melakukan sesuatu untukNya.” Itulah kerinduan Paul.
Akhirnya, biarlah kenaikan Yesus ke surga menjadi moment perenungan bagi kita untuk lebih memahami pengenalan dan panggilanNya kepada kita sebagai murid-murid (anak-anak Tuhan), untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan dan sesama manusia. Tetaplah bersukacita menantikan kedatangan-Nya kembali sebab Ia akan menarik semua orang percaya kepada-Nya. Amin.

Pdt. Jojor Resmi M.Lumbanbatu, MTh
Pendeta di Resort Jaya I


Leave a comment

Kamis, 29 Mei 2014: Kenaikan Tuhan Yesus

Evangelium : Efesus 1:15-23
Thema : Kristus yang bangkit adalah Kepala dari segala sesuatu
Surat ini merangkum banyak ajaran penting yang terdapat dalam surat-surat Paulus, khususnya dengan Surat Kolose memiliki persamaan yang amat dekat yaitu ketika Tikhikus disebutkan sebagai pembawa surat itu yang harus memberitahukan para penerimanya tentang keadaan Paulus dan menghibur hati mereka (6:21-22; bnd. Kol.4:7-8). Surat ini diawali dengan melukiskan bagaimana Allah telah membangkitkan Kristus, yang sekarang memerintah bersama Allah di surga. Surat ini ditujukan kepada orang-orang kudus yang juga orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Dari Paulus, Rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus ( toi/j a`gi,oij toi/j ou=sin Îevn VEfe,sw|Ð kai. pistoi/j evn Cristw/| VIhsou/ ). Selanjutnya, surat ini memperlihatkan bagaimana Kristus telah mempersatukan orang bukan Yahudi dan orang Yahudi dengan merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan yang memisahkan mereka (2:14). Mereka yang beriman kepada Yesus telah dipilih oleh Roh Allah untuk menjadi bagian dari satu tubuh, yaitu jemaat. Tubuh ini memiliki “Satu Tuhan, satu iman, dan satu babtisan” (4:5). Dengan demikian para pembaca diharapkan untuk mencapai kesatuan dalam iman, mencapai kedewasaan penuh, mencapai tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehinga mereka tak lagi seperti anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia (4:13-14).
Teks Khotbah ini diberi judul “Doa untuk pengertian tentang Kemuliaan Kristus”. Teks ini menjelaskan secara umum bahwa keunggulan Kristus atas semua kuasa kosmik (semua yang ada =berhubungan dengan jagat raya). Pasal 1:15-23 ini merupakan ucapan syukur karena iman para pembaca yang sedang beralih kepada “kedewasaan penuh” dan doa agar mereka mengalami hikmat kuasa Allah. Memang benar mereka memiliki iman di dalam Yesus Kritus dan kasih terhadap semua orang kudus (1:15), tetapi perlu juga di perdalam. Sehingga dengan penguatan itu ajaran-ajaran sesat yang mungkin muncul, apalagi dengan berkembangnya dewi Artemis di Efesus tidak akan begitu berbahaya bagi para pembacanya.
II.Keterangan Nas
Ayat 15-16: Aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus….aku pun tidak berhenti mengucap syukur …dalam doaku. Ayat ini memperlihatkan adanya hubungan yang akrab antara penulis Efesus dengan para pembacanya, walaupun para pembacanya tidak mengenal penulis secara pribadi, tetapi mereka telah mendengar pelayanan kasih karunia yang telah dianugerahkan kepadanya (baca: Ef.3:2), karena Paulus pernah tinggal di Efesus selama tiga tahun (Kis. 19:8, 10; 20:31).
Ayat 17-20: dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus..Dalam doa, Paulus meminta dan ia memiliki pengharapan yang besar kepada pembacanya, agar mereka beroleh pengenalan yang benar tentang Tuhan, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (ay. 17). Karena Paulus pernah tinggal di Efesus selama tiga tahun (Kisah Para Rasul 19:8,10; 20:31) tentunya sangat memahami persoalan yang menyangkut iman Kristen di sana. Efesus adalah kota yang banyak orang Kristennya, tetapi sekaligus kota yang menyuguhi sarana untuk penyembahan berhala dan praktek-praktek ilmu sihir. Kuasa kegelapan telah melanda kota itu. Kuil Dewi Diana atau lebih dikenal dengan kuil Artemis terletak di kota Efesus. Oleh sebab itu mereka harus mengenal Allah dengan benar, karena menurut Paulus mengenal Allah dengan benar merupakan fondasi Kekristenan yang kokoh dan juga merupakan solusi bagi semua persoalan hidup manusia.
Paulus juga meminta, supaya Ia menjadikan mata hatimu terang” pefwtisme,nouj tou.j ovfqalmou.j th/j kardi,aj (ay.18). Mata hati yang terang membuat kita mengetahui dan mengerti akan pengharapan yg terkandung dalam panggilanNya. Apa tujuan Bapa memanggil kita ? Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya . Mata hati yang terang juga menjadikan kita untuk mengetahui tentang “kuasaNya yang hebat”. Kuasa dan kekuatan Allah yang dikerjakan di dalam Kristus, yaitu membangkitkan Kristus dari kematian (ay. 20). Bukti Yesus telah bangkit kubur kosong, kain kafan yang terletak di tanah, kain peluh yang sudah tergulung”. Alkitab hendak mengatakan, Yesus benar-benar bangkit. Kuasa-Nya juga telah mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga (ay.20). Kenaikan Yesus ke sorga dan duduk di sebelah kanan-Nya adalah sebuah bukti bahwa Yesus hidup dan melebihi kemampuan serta kuasa yang ada di bumi ini. Kebangkitan Yesus dari kematian dan kenaikan-Nya ke sorga membawa kemenangan bagi orang percaya kepada-Nya dan kekalahan bagi penguasa dunia.
Ayat 21-23: Jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan… Kekuasaan pemerintah, kerajaan dan segala kekuasaan yang ada di dunia ini, semuanya tidak lebih tinggi dari Yesus. Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berada di bawah kuasa Allah dan di letakkan di bawah kaki-Nya (ay.22). Memberikan Yesus sebagai Kepala Jemaat, sebagai Kepala Jemaat tentu saja Ia berkuasa atas segenap umat-Nya (tubuh-Nya), sehingga jemaat menjadi sempurna karena dipenuhi oleh Kristus (ay.23).
III.Aplikasi
Happy Ascension Day, hari ini kita berkumpul untuk memperingati kenaikan Yesus Kristus ke surga yang tidak bisa dilepas/pisahkan dari peristiwa kebangkitan Yesus. Tetapi mengapa setiap merayakan kenaikan Yesus ke surga perayaannya tidak semeriah hari Natal atau Paskah? Padahal seharusnya kita harus lebih bersukacita karena kenaikan-Nya ke surga adalah untuk menyediakan tempat bagi kehidupan orang percaya. Kenaikan-Nya ke surga bukan berarti Ia meninggalkan kita begitu saja di dunia ini, Karena Yesus berkata, “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu, dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”.
Kenaikan Yesus ke sorga menandakan munculnya era baru, yaitu era Gereja yang pada hari Pentakosta dikaruniai Roh Kudus yang diutus oleh Kristus untuk meneruskan misi-Nya. Di mana Yesus menjadi Kepala Jemaat, kekuasaan dan kemulian-Nya terlihat lewat karya nyata-Nya di dunia ini yaitu untuk keselamatan manusia, dan Yesus telah memberikan tugas kepada kita agar meneruskan misi-Nya untuk bersaksi dan menyampaikan berita sukacita (keselamatan) bagi semua bangsa. Melalui pengenalan yang benar tentang Tuhan dan dengan mata hati yang terang akan memampukan kita untuk melakukan panggilan-Nya (menjadi saksi-Nya).

Lagu yang berjudul, “Open the Eyes of My Heart” adalah sebuah lagu rohani yang sudah sangat terkenal. Ada banyak penyanyi yang sudah membawakan lagu ini diantaranya Hillsong United dan Michael W Smith. Lagu ini ditulis oleh Paul Baloche yang terinspirasi dari doa rasul Paulus buat jemaat Efesus agar mata hati mereka dibuat Tuhan menjadi terang. “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus..” (Efesus 1:8). “Sesungguhnya ini kerinduan hati kita semua..” kata Paul pada suatu kali. “Saya sudah lama mengikut Tuhan tapi itu tidak pernah cukup. Saya ingin mengenalNya. saya ingin melihat Tuhan. Saya ingin bangun setiap pagi dengan merasakan kehadiranNya dalam hidup saya. Saya ingin melihat KerajaanNya hadir di dunia, hingga saya bisa menjadi bagian dari KerajaanNya dan bisa melakukan sesuatu untukNya.” Itulah kerinduan Paul.
Akhirnya, biarlah kenaikan Yesus ke surga menjadi moment perenungan bagi kita untuk lebih memahami pengenalan dan panggilanNya kepada kita sebagai murid-murid (anak-anak Tuhan), untuk melakukan sesuatu untuk Tuhan dan sesama manusia. Tetaplah bersukacita menantikan kedatangan-Nya kembali sebab Ia akan menarik semua orang percaya kepada-Nya. Amin.

Pdt. Jojor Resmi M.Lumbanbatu, MTh
Pendeta di Resort Jaya I


Leave a comment

Bahan Sermon Minggu, 27 April: I Petrus 1:3-9

Thema : Kebangkitan Kristus Dasar Pengharapan, Iman dan Kasih

I. Pendahuluan

Sarana komunikasi yang dahulu umum dipakai oleh orang Yunani dan Romawi adalah surat. Demikian juga penulis I Petrus yang menyampaikan gagasan-gagasannya melalui surat. I Petrus diawali dan diakhiri dengan salam (1:1-2, 5:12-14). Surat ini ditujukan kepada jemaat Kristen yang tersebar di wilayah Asia Kecil bagian utara (1:1). Penulis menghendaki agar orang yang membaca surat ini sadar bahwa mereka akan menanggung penderitaan karena iman mereka. Namun, penderitaan tidak akan mengalahkan mereka karena Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk mengampuni dosa mereka, dan karena Allah telah membangkitkan Dia dari kematian. Orang Kristen berharap akan dibangkitkan menuju hidup baru, dan harapan itu sudah dimulai sejak pembabtisan.

Kelahiran Yesus di Betlehem dan kematian Yesus di Golgota itu penting dan amat penting, karena Yesus bangkit, Yesus hidup. Sekiranya saja Yesus itu lahir dan mati, tetapi tidak bangkit, tidak hidup lagi, apa bedanya Yesus dengan orang-orang dan pahlawan-pahlawan lainnya. Setelah Yesus mati, dan sebelum murid-murid Yesus mengetahui bahwa Yesus telah bangkit, murid-muridNya mengurung diri dalam kesedihan, ketakutan, kekecewaan dan keputusasaan. Namun, setelah mereka mengetahui Yesus bangkit, Yesus hidup segala sesuatu menjadi berubah. Ada semangat baru dan harapan baru. Kebangkitan Yesus Kristus menjadikan mereka semakin berani dan tidak takut lagi kepada bahaya yang makin besar yang mengancam jiwa dan keselamatan mereka. Demikian juga, umat Allah dalam nas ini yang sedang menghadapi penganiayaan/penderitaan karena iman, jangan sampai putus asa, karena Allah yang telah memilih mereka akan melindungi mereka sampai pada hari penghakiman ketika Yesus Kristus kembali. Dengan kebangkitan Yesus, Allah menganugerahi umat-Nya hidup baru dan pengharapan, sehingga mereka mampu bertahan menghadapi berbagai pencobaan.

II. Keterangan Nas

Ayat 3-4: Kebangkitan Yesus Kristus. Keunikan kekristenan terletak di sini. Kalau hanya soal punya nabi yang berkuasa, guru yang penuh hikmat, tokoh yang berbudi luhur dan baik hati, bahkan bersedia mati karena keyakinannya, “Kekristenan tidak ada istimewanya”. Jadi keistimewaan kekristenan ialah: Yesus bangkit. Itu sebabnya rasul Petrus mengajak umat Allah untuk mensyukuri rahmat-Nya yang besar, sebab dengan kebangkitan Yesus kita mengalami : Pertama: Melahirkan kita kembali (baca:mengalami kelahiran baru). Artinya bahwa kebangkitan Yesus membawa kita kepada status yang baru yaitu menjadi anak Allah (anak-anak terang). Lahir kembali akan menjadikan kita ciptaan Allah yang baru, hal itu hanya terjadi jika kuasa Roh Kudus bekerja dalam diri kita untuk memampukan kita meninggalkan manusia lama. Kerajaan Allah hanya akan menjadi bahagian dari orang-orang yang telah diperbaharui oleh Allah. Sehingga iman percaya kita kepada Kristus bukanlah sifatnya verbal hanya pada perkataan, namun menjadi pola hidup yang benar-benar diubah menjadi ciptaan Allah yang baru. Kehidupan dibawah ruang lingkup kuasa Roh Kudus baik dalam perkataan, pikiran dan perbuatan. Kedua: Menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa (baca:Kehidupan yang kekal). Anak-anak Allah yang percaya kepada Yesus Kristus akan mendapatkan hidup yang kekal. (Baca: Yohanes 3:16,”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal). Itu sebabnya, kebangkitan Yesus Kristus membawa pengharapan yang baru bukan hanya tentang apa yang ada di dunia ini (tidak kekal), namun ada yang lebih berharga, yang lebih indah dari yang pernah kita lihat di dunia ini, yaitu harta yang kekal, yang tidak mau habis, punah, hancur, yang di simpan dalam Kerajaan Sorga, yakni hidup kekal yang dijanjikan Allah bagi orang yang percaya kepada Yesus (Lih. Yoh.14:1-6; Kol.3:1-4; I Tes.4:13-18; Ibr.4:1-11).

Ayat 5-7: Dipelihara dalam kekuatan Allah karena iman. Dasar pengharapan orang yang percaya kepada Yesus Kristus adalah kuasa kekuatan Allah yang memelihara kehidupaan orang-orang yang percaya. Inilah yang membuat orang Kristen harus, “bergembira” walaupun saat ini harus berdukacita karena berbagai-bagai pencobaan. Maksud semua ini adalah untuk membuktikan kermunian imanmu- yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api. Kalau saat itu tiba (baca: sedang menghadapi penganiayaan karena iman), tidak semua orang tahan dalam kesetiaan-Nya. Apakah karena kurang iman atau kurang berdoa ? atau kurang sungguh-sungguh mengikut Yesus ? Namun, yang pasti ketika kita menghadapi kesulitan (penganiayaan karena iman), jangan membuat kita putus asa dan mengeluh, tetapi hendaknya kita terus percaya kepada kuasa Allah, dan semuanya itu akan membuktikan kemurnian iman kita. Sebab kesetiaan itu bukan sekedar “tekad”. Kesetiaan itu tidak cukup ditunjukkan dengan sekedar “mau” atau “kepingin”. Namun kesetiaan yang murni itu harus diuji.

Ayat 8-9: Percaya dan mengasihi-Nya walaupun belum pernah melihat Dia. Kasih kepada Allah adalah dasar pengharapan orang Kristen. Kita harus hidup dalam dasar iman bukan melalui apa yang telah kita lihat. Sebab, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1). Kasih dan iman tidak dapat dipisahkan, contohnya: kalau kita mengasihi seseorang pastilah kita mempercayainya. Kasih dan imanlah yang meneguhkan pengharapan kita, bagaimana besar pengharapan kita kepada Allah akan ditentukan bagaimana besar kasih kita kepada Allah. Itu sebabnya, kita tidak perlu lagi takut menghadapi setiap kesulitan, namun kita akan terus bersukacita di dalam Tuhan. Bersukacita karena percaya kepada kekuatan Allah yang senantiasa memelihara kehidupan kita sampai kita meninggalkan dunia ini, bersukacita karena kita percaya bahwa kita sudah memiliki kehidupan yang kekal melalui iman kita kepada Yesus Kristus yang telah melahirkan kita kembali.

III. Kesimpulan

Babtisan Kudus yang kita terima membuat kita telah mati bersama dengan Yesus Kristus yang mati dan kebangkitan-Nya membuat kita menjadi ciptaan yang baru (dilahirkan kembali). “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” ( 2 Kor.5:15). Dengan demikian kita hidup bukan untuk diri kita sendiri, tetapi hidup untuk Kristus. Maka tetaplah percaya kepada Yesus Kristus, dan lakukanlah kasih-Nya. Amin

 


Leave a comment

Bahan Sermon Minggu, 20 April 2014: Paskah : Kisah Para Rasul 10:34-43

Thema : Menjadi Pemberita dan Saksi Kebangkitan Kristus

1.Pendahuluan

Bagian ini mengisahkan suatu tonggak penting dalam perjalanan sejarah gereja, ketika gereja mulai menerima bangsa-bangsa lain juga. Hal ini dimulai ketika Petrus sendiri mau menumpang di rumah Simon, seorang penyakit kulit yang tinggal di tepi laut yang dianggap najis karena penyakitnya. Jadi kalau Petrus menumpang di rumahnya, sebenarnya Petrus sudah dianggap najis. Namun, Petrus ternyata tetap mau tinggal di sana. Apa yang Petrus lakukan ini merupakan awal yang besar bagi gereja untuk semakin membuka pintu penerimaannya lebar-lebar kepada setiap orang. Dengan menumpangnya Petrus di rumah Simon, sang penyakit kulit itu, menjadi pintu masuk penerimaan Kornelius oleh gereja.

Sejak kecil Petrus sudah dididik dalam pemisahan antara halal dan haram bukan saja dalam hal makanan, melainkan juga dalam hal berhubungan dengan manusia. Dalam keyakinannya, ada orang yang memang layak untuk didekati, tetapi juga ada orang yang harus dihindari, yaitu orang yang masuk dalam kategori najis, seperti orang non Yahudi. Orang Yahudi pada umumnya percaya bahwa orang kafir itu tidak berharga dihadapan Allah. Bahkan kalau ada seorang ibu kafir yang sedang bersalin, ibu itu tidak perlu ditolong sebab ia hanya akan melahirkan anak kafir. Namun Tuhan mendidik Petrus dan menguah pandangannya itu. Di hadapan Allah, semua orang mempunyai kedudukan yang sama. Tidak ada seorang pun yang najis. Melalui sebuah penglihatan yang diberikan oleh Allah, “Tampaklah olehnya langit terbuka dan dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah. Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung” (Kis. 10:11-12). Lalu Tuhan menyuruhnya untuk makan makanan itu. Namun, Petrus menolaknya karena dalam keyakinannya, ia tidak boleh makan makanan yang najis. Tuhan kembali berkata kepadanya bahwa apa yang dinyatakan halal oleh Tuhan, tidak boleh dinyatakan najis oleh manausia. Oleh karena itu, Petrus harus berubah. Tuhan mau menerima Kornelius, Petrus pun diminta juga untuk melakukan hal yang sama.

II. Keterangan Nas

Ayat 34-38, Sesungguhnya Allah tidak membedakan orang. Tidak ada orang yang betul-betul sama dengan orang lain. Bahkan, saudara kembar yang struktur genetiknya sama sehingga serupa dalam banyak hal ternyata berbeda dalam hal-hal tertentu. Tiap individu adalah unik. Tidak ada duanya, sifat kita beda. Selera kita beda, orientasi kita beda. Minat kita beda. Oleh sebab itu, keyakinan kita juga beda. Dengan kata lain, secara bentuk/wujud, memang manusia tidak ada yang sama persis, Namun secara esensi, manusia adalah sama-sama mahkota ciptaan Tuhan.

Roh Kudus bekerja melalui perbedaan untuk memperkaya wawasan rohani anak-anak Tuhan. Itu sebabnya Petrus berkata “Sesungguhnya aku telah mengerti bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya (ayat 34-35). Penglihatan itu (10:11-12), telah memberi pencerahan bagi Petrus untuk menghayati bahwa keselamatan bukan hanya milik orang Yahudi saja. Kamatian dan kebangkitan-Nya (baca: Salib) mengingatkan kita bahwa kita adalah orang-orang berdosa yang hanya pantas untuk dibinasakan oleh Allah. Semua kita, tidak ada yang terkecuali. Di hadapan manusia, mungkin kita kelihatan lebih baik, lebih hebat. Tetapi di hadapan Allah ? Nol. Kita sama semua. Kita sama berharganya dihadapan Tuhan. Tuhan Yesus mengasihi tanpa membedakan. KebangkitanNya menjadikan kita semua bersaudara. Kita semua pastilah berasal dari latar belakang yang berbeda; sifat dan karakter yang berbeda, pendidikan yang berbeda, hobby kesukaan yang berbeda, warna kulit yang berbeda, social ekonomi yang berbeda, suku/adat budaya yang berbeda. Namun ada satu yang sama, yaitu kita mempunyai Tuhan yang satu, yaitu Yesus Kristus yang telah menebus kita ketika kita berdosa (dalam kedurhakaan). Kebangkitan-Nya menjadikan kita bersaudara, mempersatukan kita untuk melaksanakan tugas pengutusan, yaitu memberitakan dan bersaksi bahwa Yesus adalah Hakim atas orang hidup dan orang mati (10:42-43).

Ayat 39-43: Diutus menjadi saksi. Dalam penjelasannya kepada Kornelius, Petrus menjelaskan bahwa mereka (Para Rasul) adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya ditanah Yudea maupun di Yerusalem. Petrus menerima Kornelius sebagai sesamanya, tembok pemisah antara orang Yahudi dan non Yahudi telah dirubuhkan. Hal ini bisa terjadi karena pekerjaan Tuhan. Tuhan memerintahkan supaya kita mengasihi sesama kita, tanpa terkecuali. Sesama kita bukan hanya orang yang seagama atau sesuku dengan kita, melainkan siapa pun. Karena itu, kita harus belajar dari dan menggali makna dari kisah Kornelius ini. Setelah Petrus menerima Kornelius, Petrus tetap menceritakan (bersaksi) tentang Yesus Kristus, Petrus menjelaskan siapa Yesus Kristus yang telah mereka salibkan hingga mati namun pada hari ketiga Ia bangkit dan telah menampakkan diri. Yesus juga memberi perintah agar mereka (Para Rasul) akan menjadi saksi-Nya, mereka akan menerima Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya, “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”(Kis.1:8).

III. Kesimpulan

Selamat Paskah bagi kita semua. Alkitab tidak menceritakan bagaimana peristiwa paskah itu, simbol paskah bukanlah Yesus yang sedang bangkit dari kubur, tetapi kubur kosong, kain kafan yang terletak di tanah, kain peluh yang sudah tergulung”. Alkitab hendak mengatakan, Yesus benar-benar bangkit, tetapi bukan peristiwa itu yang paling penting, yang paling penting adalah KuasaNya. Kuasa apa ? yaitu kuasa kemenangan. Melalui kebangkitanNya, kita mengalami hidup yang berkemenangan. Kita harus menyadari dan menghayati bahwa kita lebih dari pada orang-orang yang menang (we are winners). Oleh sebab itu, sebagai orang Kristen kita tidak boleh lembek seperti bubur, jangan minder dan putus asa, tetapi tetap mempunyai semangat (dari Roh Kudus) dalam memberitakan kebaikanNya (menjadi saksi-Nya).

 

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.